Inspirasi Terdepan Anda Dan Keluarga

Monday, December 5, 2016

Kunci Kemenangan Kaum Muslimin Adalah Memperbaiki Keimanan Dengan Meninggalkan Dosa Dan Kesesatan

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah berkata,

وحيث ظهر الكفار فإنما ذاك لذنوب المسلمين التي أوجبت نقص إيمانهم، ثم إذا تابوا بتكميل إيمانهم نصرهم الله كما قال تعالى ولا تهنوا ولا تحزنوا وأنتم الأعلون إن كنتم مؤمنين وقال أولما أصابتكم مصيبة قد أصبتم مثليها قلتم أنى هذا قل هو من عند أنفسكم

“Ketika orang-orang kafir menang maka itu hanyalah karena dosa-dosa kaum muslimin yang telah melemahkan iman mereka, kemudian apabila mereka bertaubat dengan menyempurnakan kembali iman mereka maka Allah akan menolong mereka.

Sebagaimana firman Allah ta’ala,

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

“Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah (pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang lebih tinggi, jika kamu orang-orang yang beriman.”  (QS. Ali Imron: 139)

Dan firman Allah ta’ala,

أَوَلَمَّا أَصَابَتْكُمْ مُصِيبَةٌ قَدْ أَصَبْتُمْ مِثْلَيْهَا قُلْتُمْ أَنَّى هَذَا قُلْ هُوَ مِنْ عِنْدِ أَنْفُسِكُمْ

“Dan mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar) kamu berkata: “Dari mana datangnya (kekalahan) ini?” Katakanlah: “Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri”. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.” (QS. Ali Imron: 165).”
[Al-Jawaabus Shahih 6/450]

Beberapa Kemaksiatan Yang Harus Senantiasa Dihindari

Syirik dan kufur kepada Allah ta'ala dan kerusakan-kerusakan aqidah, diantara bentuknya: 


  • Pengagungan terhadap kuburan orang-orang sholeh secara berlebihan dengan cara berdo'a kepada penghuni kubur tersebut atau mengharap berkah darinya, kenyataannya masih ada ormas Islam yang malah melindungi praktek syirik tersebut.
  • Upacara sesajen (bersih desa, sedekah bumi, larung laut, ruwatan) dan menyembelih untuk selain Allah serta meyakini selain Allah dapat menimpakan bencana atau menghilangkannya dan melindungi mereka darinya.
    Kekafiran Syi'ah dan celaan mereka terhadap para sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam, kenyataannya masih ada ormas Islam yang membela Syi'ah.  
  • Bersikap loyal kepada orang-orang kafir seperti dengan memilih dan mengangkat mereka menjadi pemimpin dan pejabat, mengucapkan selamat terhadap hari raya mereka dan meniru-niru kebiasaan mereka. 
  • Percaya kepada jimat, takut sial dan masih banyak lagi praktek-praktek kesyirikan yang harus ditinggalkan.

Bid'ah dan penyelisihan kepada Rasulullah shalallahu’alaihi wa sallam, diantara bentuknya:


  • Perayaan-perayaan yang tidak berdasarkan dalil, seperti perayaan Maulid, Isra' Mi'raj, Muharram dan lain-lain.
  • Do'a dan dzikir berjama'ah dengan nyanyian serta diiringi musik.
  • Menciptakan lafaz-lafaz sholawat sendiri dan atau menyanyikannya.Dan masih banyak berbagai macam bid'ah dan penyelisihan terhadap sunnah Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Maksiat dan kemungkaran, diantaranya:

  • Zina
  • Riba
  • Nyanyian dan musik
  • Campur baur laki dan wanita
  • Wanita membuka aurat

Dan masih banyak maksiat dan kemungkaran yang seharusnya ditinggalkan.

Semoga Allah menolong kita semua untuk taat kepada-Nya dan meninggalkan semua perbuatan dosa.
Share:

Hakikat Persaudaraan Muslim Yang Sesungguhnya


Persaudaraan Karena Aqidah Adalah Yang Tertinggi Di Atas Persaudaraan Lainnya
Allah Ta’ala berfirman:

إِنَّمَا الْمُؤْمِنُونَ إِخْوَةٌ فَأَصْلِحُوا بَيْنَ أَخَوَيْكُمْ وَاتَّقُوا اللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ

“Orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (QS. Al Hujurat (49): 10)

Imam Al Qurthubi Rahimahullah mengatakan:

أي في الدين والحرمة لا في النسب، ولهذا قيل: أخوة الدين أثبت من أخوة النسب، فإن أخوة النسب تنقطع بمخالفة الدين،وأخوة الدين لا تنقطع بمخالفة النسب.

 Yaitu persaudaraan dalam agama dan kehormatan bukan dalam nasab. Oleh karenanya dikatakan:

persaudaraan karena agama lebih kuat dari pada persaudaraan  nasab,
maka persaudaraan nasab akan terputus dengan berbedanya agama,
sedangkan persaudaraan karena agama tidaklah terputus dengan berbedanya nasab.”

Imam Al Qurthubi, Al Jami’ Li Ahkamil Quran, 16/322-323. Darul ‘Alim Al Kutub, Riyadh. Tahqiq: Hisyam Samir Al Bukhari

Maka, siapa pun dia, suku apa pun, ras apa pun, tapi dia muslim maka dia saudara. Saudara seiman.

Sebaliknya, walau dia adik, kakak, orang tua, anak, kerabat, tapi berbeda aqidah, maka dia bukan saudara dalam artian sebenarnya, hanya saudara senasab.

Jika berkumpul keduanya, dia saudara senasab dan juga saudara seaqidah, maka lebih kuat lagi kedudukannya.

Wallahu A'lam
Share:

Inilah Hukum menggantungkan Ayat-Ayat Al-Qur'an Di Dinding

Segala puji hanya milik Allah, dengan pujian yang banyak sesuai apa yang diperintahkanNya. Saya bersyukur kepadaNya, sedangkan Dia telah mengumumkan janji tambahan rahmat bagi orang yang bersyukur. Dan saya bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak diibadahi kecuali Allah saja, tidak ada sekutu bagiNya, meskipun ini dibenci oleh setiap orang musyrik dan kafir, dan saya bersaksi bahwa Muhammad itu hamba dan utusanNya, sayyid seluruh manusia, yang memberi syafa’at dan yang diizinkan untuk memberi syafa’at di Mahsyar. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepadanya, keluarganya dan para sahabatnya yang merupakan sebaik-baik sahabat dan golongan, juga kepada para tabi’in yang mengikuti mereka dengan cara yang baik, selama fajar masih tampak dan bercahaya, amma ba’du.

Sesungguhnya saya ingin memperingatkan dua hal yang berhubungan dengan Al-Qur’an Al-Karim.


Pertama.

Bahwa kebanyakan orang menggantungkan ayat-ayat yang mulia. Mereka menggantungkannya pada dinding di tempat-tempat duduk mereka dan penggantungan (ayat-ayat) ini termasuk perbuatan bid’ah yang tidak pernah dilakukan oleh para sahabat dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan cara yang baik. Saya tidak mengetahui untuk apa orang-orang itu menggantungkan ayat-ayat ini !?

Apakah mereka menggantungkan ayat-ayat ini untuk penolak bala ? (Jika ini tujuannya) maka sesungguhnya penggantungan itu bukan wasilah (sarana, cara) untuk menolak bahaya. Yang hanya bisa dijadikan wasilah penolak bahaya adalah seseorang membaca dengan lisannya (ayat-ayat atau surah-surah) yang dinyatakan dalam As-Sunnah, bahwa hal itu bisa menolak bala, sebagaimana sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

مَنْ قَرَأَ آيَةَ الْكُرْ سِيْ فِيْ لَيْلَةٍ لَمْ يَزَلْ عَلَيْهِ مِنَ اللَّهِ حَافِظً وَلاَ يَقْرَبُهُ شَيْطَانٌ حَتَّى يُصْبِحَ

“Artinya : Barangsiapa membaca ayat kursi di suatu malam, maka senantiasa Allah memberi penjagaan bagi orang itu dan tidak didekati setan hingga pagi hari” [1]

Dan ayat Kursi adalah firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

اللَّهُ لَا إِلَٰهَ إِلَّا هُوَ الْحَيُّ الْقَيُّومُ ۚ لَا تَأْخُذُهُ سِنَةٌ وَلَا نَوْمٌ ۚ لَهُ مَا فِي السَّمَاوَاتِ وَمَا فِي الْأَرْضِ ۗ مَنْ ذَا الَّذِي يَشْفَعُ عِنْدَهُ إِلَّا بِإِذْنِهِ ۚ يَعْلَمُ مَا بَيْنَ أَيْدِيهِمْ وَمَا خَلْفَهُمْ ۖ وَلَا يُحِيطُونَ بِشَيْءٍ مِنْ عِلْمِهِ إِلَّا بِمَا شَاءَ ۚ وَسِعَ كُرْسِيُّهُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضَ ۖ وَلَا يَئُودُهُ حِفْظُهُمَا ۚ وَهُوَ الْعَلِيُّ الْعَظِيمُ

“Artinya : Allah, tidak ada tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia Yang Hidup kekal lagi terus menerus mengurus (makhlukNya), tidak mengantuk dan tidak tidur. KepunyaanNya apa yang di langit dan di bumi. Tiada yang dapat memberi sya’faat di sisi Allah tanpa izinNya. Allah mengetahui apa-apa yang di hadapan mereka dan di belakang mereka, dan mereka tidak mengetahui apa-apa dari ilmu Allah, melainkan apa yang dikehendakiNya. Kursi Allah meliputi langit dan bumi. Dan Allah tidak merasa berat memelihara keduanya, dan Allah Maha Tinggi lagi Maha Besar” [Al-Baqarah : 255]

Maka menempelkan ayat ini atau yang lainnya tidak bisa melindungi mereka sedikitpun.

Apakah mereka hendak ber-tabarruk dengan menempelkan Al-Qur’an pada dinding itu ? Padahal tabarruk dengan Al-Qur’an menggunakan cara seperti ini tidak disyari’atkan, bahkan itu bid’ah dan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda.

كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلاَ لَةٌ

“Artinya : Setiap bid’ah itu sesat”

Ataukah mereka menginginkan dengan hal itu agar orang mengingat Al-Qur’an tatkala mereka mengangkat kepala kearahnya ? Namun hal ini bila kau terapkan pada kenyataan yang ada tentu engkau tidak menemukan sedikitpun pengaruh. Sesungguhnya pada semua majelis-mejelis (tempat duduk) itu, engkau tidak melihat seorangpun dari kalangan orang-orang yang duduk mengangkat kepalanya untuk membaca ayat ini atau untuk mengingat pelajaran-pelajaran dan rahasia-rahasia yang tekandung di dalamnya. Para ulama salaf berbeda pendapat : Apakah boleh bagi orang yang sakit jiwa atau sakit jasmani menggangtungkan ayat Al-Qur’an di dadanya atau meletakkannya di bawah bantalnya dengan tujuan penyembuhan dengannya, karena cara macam ini tidak pernah bersumber dari Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam

Ataukah mereka (orang-orang) yang menempelkan ayat-ayat yang mulia ini hanya menginginkan menempelkannya dengan sia-sia dan sekedar pemandangan ? Sesungguhnya Al-Qur’an tidak layak dijadikan permainan sia-sia dan pemandangan yang menjadi hiasan saja. Sesungguhnya Al-Qur’an lebih tinggi kedudukannya dan lebih agung derajatnya dari sekedar dijadiakn hiasan dinding.

Oleh sebab itu, saya menyerukan kepada semua saudara-saudara kita yang telah menggantungkan agar segera melenyapkannya karena semua kemungkinan-kemungkinan yang telah kalian dengar. Seluruhnya menunjukkan bahwa menggantungkan ayat-ayat itu adalah sesuatu yang tidak layak.

Kedua.

Adapun hal yang ke dua yang ingin saya ingatkan dan saya mengkhususkannya kepada para khaththah (ahli tulisan Arab) yang suka menuliskan untuk orang lain tulisan-tulisan di atas kertas atau lainnya, yaitu apa yang dilakukan oleh para khaththah. Mereka menulis ayat-ayat yang mulia dengan selain khat Utsmani dan membentuk tulisan-tulisan ini seperti rekaan, sampai saya mendengar bahwa sebagian mereka hendak menulis firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

يُكَوِّرُ اللَّيْلَ عَلَى النَّهَارِ وَيُكَوِّرُ النَّهَارَ عَلَى اللَّيْلِ

“Artinya : Dia menutupkan malam atas siang dan menutupkan siang atas malam” [Az-Zumar : 5]

Dia menulis hurup “wawu” bagaikan lingkaran, ia hendak menulis Al-Qur’an sesuai dengan makna yang dikandungnya, sedangkan hal ini tidak ragu lagi diharamkan, karena sesungguhnya lafadz-lafadz Al-Qur’an Al-Karim tidak selayaknya dibentuk dengan bentuk yang menunjukkan kehebatan penulisnya atau menarik pandangan dengan ukirannya itu, sebab Al-Qur’an diturunkan bukan untuk hiasan atau rekaan. Dan barangsiapa yang memiliki barang-barang seperti itu, maka hendaknya dia membakarnya atau menghapusnya supaya ayat Al-Qur’an tidak dijadikan sebagai permainan.

Para ulama berbeda pendapat apakah boleh Al-Qur’an ditulis dengan bukan khath Utsmani, meskipun bagi anak-anak ? Ada tiga pendapat di antara mereka tentang masalah ini.

Adapun menulisnya dengan di reka-reka, maka tidak diragukan lagi keharamannya.

Maka kewajiban kita wahai saudara-saudara adalah menghormati dan mengangungkan Kitab Allah serta menggunakannya sesuai dengan maksud diturunkannya, yaitu sebagai pelajaran dan obat penyakit hati dan sebagai petunjuk serta rahmat bagi kaum mukminin, dengarlah hikmah penurunannya di dalam firman Allah Subhanahu wa Ta’ala.

كِتَابٌ أَنْزَلْنَاهُ إِلَيْكَ مُبَارَكٌ لِيَدَّبَّرُوا آيَاتِهِ وَلِيَتَذَكَّرَ أُولُو الْأَلْبَابِ

“Artinya : Ini adalah sebuah kitab yang Kami turunkan kepadaMu penuh dengan berkah supaya mereka memperhatikan ayat-ayatnya dan supaya mendapat pelajaran orang-orang yang mempunyai pikiran” [Shaad : 29]

Al-Qur’an turun bukan untuk digantung di tembok dan direka-reka dalam penulisannya.

Sebagaimana dalam penggantungan di tembok, maka ada keharaman lain yang saya kira tidak seorangpun yang tidak mengetahuinya. Sesungguhnya majelis-majelis yang ada ayat-ayat Al-Qur’an di dindingnya terkadang menjadi majelis permainan haram, terkadang ada ghibah, bohong, makian-makian, dan perbuatan-perbuatan haram lainnya. Maka semua ini kenyataan sebagai pengolok-olokan terhadap Kitab Allah yang ada di atas kepala mereka, orang-orang yang hadir, sedangkan mereka sedang bermaksiat kepada Allah di depan ayat-ayat Kitab Allah.

Dan ketahuilah –semoga Allah merahmati kalian- sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah kitab Allah dan sebaik-baik tuntunan adalah tuntunan Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa sallam, sedangkan seburuk-buruk urusan adalah yang diada-adakan, dan setiap yang diada-adakan adalah bid’ah dan setiap bid’ah adalah sesat, sedangkan setiap kesesatan (tempatnya) di Neraka.
(Oleh Syaikh  Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin)

[Disalin dari kitab 70 Fatwa Fii Ihtiraamil Qur’an edisi Indonesia 70 Fatwa Tentang Al-Qur’an, Penulis Abu Anas Ali bin Husain Abu Luz, Penerbit Darul Haq]
___
Footnote
[1]. Dikeluarkan oleh Al-Bukhari dari hadits Abu Hurairah Radhiyallahu ‘anhu no. 3211, Fathul Bari 4/568, Kitab Al-Wikalah, bab 10
Share:

Kesucian Air laut Dan Halalnya Binatang Laut

Segala puji bagi Allah Subhanahu wata'ala. Kita memuji, memohon pertolongan dan meminta ampun kepadaNya. Kita berlindung kepada Allah dari kejahatan diri dan keburukan amal perbuatan. Barang siapa diberi petunjuk oleh Allah Subhanahu wata'ala maka tidak ada yang bisa menyesatkannya, dan barang siapa disesatkan oleh Allah maka tidak ada yang bisa menunjukinya. Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan yang berhak disembah selain Allah semata, tiada sekutu bagiNya. Dan aku bersaksi bahwa Muhammad itu adalah hamba dan RasulNya.

Pada kesempatan kali ini kita akan mengkaji kitab Taudhihul Ahkaam Min Bulughil Maraam Karya Al Hafidz Ahmad Bin Aly Bin Muhammad Al Asqalani yang disyarah oleh Abdulloh Bin Abdirahman Al Basaam.
Kita hanya akan mengambil beberapa hadist pilihan dari kitab ini dan akan kami sertakan intisari ( faedah ) hadist yang kami ringkas dari syarahnya.

Kitab Thaharah ( Kesucian Air Laut & Halalnya Binatang Laut )

Dari Abu Hurairah Radliyallaahu 'anhu bahwa Rasulullah Shallallaahu 'alaihi wa Sallam bersabda tentang (air) laut. "Laut itu airnya suci dan mensucikan, bangkainya pun halal." Dikeluarkan oleh Imam Empat dan Ibnu Syaibah. Lafadh hadits menurut riwayat Ibnu Syaibah dan dianggap shohih oleh Ibnu Khuzaimah dan Tirmidzi. Malik, Syafi'i dan Ahmad juga meriwayatkannya.

Faedah Hadist :

  1. Syafe’I berkata hadist ini merupakan setengah ilmu thaharah.
  2. Para ulama sepakat tentang sucinya air laut.
  3. Halalnya bangkai hewan laut. Yang dimaksud bangkai hewan laut adalah hewan yang hidup dilaut dan mati dilautan.

Khilaf Ulama :

  1. Imam Abu Hanifah berpendapat halalnya semua jenis ikan laut dan mengharamkan selainya seperti anjing laut,babi laut ,ular laut dan selainya yang memiliki keserupaan dengan hewan darat.
  2. Imam Ahmad sebagaimana yang masyhur dalam madzhabnya berpendapat halalnya semua jenis hewan laut kecuali katak ,ular dan buaya. Katak dan ular merupakan dua binatang yang menjijikan sedangkan buaya merupakan binatang buas yang bertaring.
  3. Imam Malik & Syafe’I : Menghalalkan seluruh binatang laut tanpa terkecuali.Bersandarkan dengan dalil :  "Dihalalkan bagimu hewan buruan laut" ( Al Maidah : 96 ) Dan inilah pendapat yang rajih.

( Diringkas & diterjamahkan dari kitab : Taudhihul Ahkam Min Bulughil Maram,Abdullah Bin Abdirahman Al Basaam )

Oleh : Abu Faiz El Ikhwani
Share:

Inilah Cara Agar Hisab Kita Ringan Di Akhirat

Ingin Hisab Ringan

Hisab Ringan adalah dambaan dan asa bagi setiap hamba beriman.

Bagaimana cara mewujudkannya?

  • Tahan sikapmu untuk tidak menumpahkan darah kaum muslimin
  • Kunci rapat lisanmu untuk tidak menjatuhkan kehormatan seorang hamba beriman
  • Dan kosongkan perutmu dari harta syubhat dan haram

Maka Alloh akan meringankan hisabmu jika bisa melaksanakan hal-hal diatas

Ada seorang laki-laki yang meminta kepada Ibnu Umar-rodhiallohu ‘anhuma- untuk menuliskan seluruh ilmu kepadanya. Maka Ibnu Umar menulis untuknya:

إن العلم كثير, ولكن إن استطعت أن تلقى الله خفيف الظهر من دماء الناس, خميص البطن من أموالهم, كاف اللسان عن أعراضهم, لازما لأمر جماعتهم, فافعل

“Ilmu itu banyak. Akan tetapi jika kamu mampu untuk  bertemu Alloh dalam keadaan ringan pungungmu dari ( menumpahkan ) darah manusia ( tanpa kebenaran ), kosong perutmu dari ( makan dengan jalan batil ) harta mereka, dapat menahan lisan dari mencela kehormatan mereka, serta berpegang teguh dengan jama’ah muslimin, maka lakukanlah !”. 

[ Siyar A’lamin Nubala’ : 3/222 ).

(Disarikan Dari Shameela - Ust. Oemar Mita, Lc.)
Share:

On Streaming

Acara Hari Ini :

05.00 - 06.00 : Opening-Murotal-DzikirPagi
06.00 - 07.00 : Cakrawala Pagi
07.00 - 08.30 : Embun Pagi (Ust. Oemar Mita)
08.30 - 10.00 : Shobahul Khoir
10.00 - 11.30 : Tausiyah Pendek
11.30 - 12.30 : Murotal
12.30 - 13.30 : Kajian Siang (Ust. Agus Supriadi)
13.30 - 15.00 : ReHat Siang (UA By Request)
15.00 - 16.00 : Murotal
16.00 - 17.00 : Telaga Iman
17.00 - 19.30 : Murotal
19.30 - 20.30 :Tausiyah Malam
20.30 - 21.30 : ReHat Malam (UA By Request)
21.30 - 22.00 : Muhasabah-Closing

Powered by Blogger.

Arsip Kami

Listeners

Pages