Inspirasi Terdepan Anda Dan Keluarga

Showing posts with label Tausiyah. Show all posts
Showing posts with label Tausiyah. Show all posts

Sunday, July 30, 2017

Inilah Waktu Keluarnya Dajjal Menurut Rosulullah Shalallahu Alaihi Wassalam

SEMENJAK diutusnya Muhammad bin Abdullah menjadi Nabi, Allah Swt. sudah memvonis bahwa ummat beliau adalah ummat akhir zaman. Jadi pengertian akhir zaman itu sudah sejak diutusnya Nabi Muhammad Saw. yang merupakan Nabi terakhir.

Kenyataan bahwa kita adalah ummat akhir zaman menunjukkan bahwa kita saat ini hidup di akhir zaman. Menurut hadits shahih, masa akhir zaman ini terbagi menjadi lima.

Pertama, masa kenabian, saat Rasulullah masih hidup.

Kedua, masa Khulafaur Rasyidin, mulai Abubakar, Umar, Usman, dan Ali.

Ketiga, masa raja-raja menggigit (maalikan ‘adhan), yaitu masa setelah wafatnya Ali bin Abi Thalib r.a. sampai runtuhnya Daulah Khilafah Utsmaniyah (1924).


Keempat, masa maalikan jabariyan (penguasa diktator).

Kelima, masa kembalinya sistem khilafah.

Saat ini kita hidup di masa yang mana? Sekarang masa penguasa diktator. Ummat Islam sedang kalah. Tetapi itu memang sudah sunatullah, bahwa ada kalanya menang, ada kalanya kalah. Kita pun harus optimis, akan tiba waktunya ummat Islam memperoleh kemenangan.

Kelak penguasa diktator itu bisa dikalahkan kaum Muslimin? Begitulah menurut hadits. Kita akan berperang melawan Yahudi, dan Yahudi akan hancur. Yahudi akan diburu sampai manapun, sampai-sampai pohon dan batu pun bicara,

“Hai kaum Muslimin, di belakangku ada Yahudi yang bersembunyi!” Kecuali pohon gharqad (semacam kaktus) yang merupakan pohon Yahudi. Jangan heran, sekarang pohon gharqad itu banyak ditanam oleh orang-orang Israel, untuk berlindung dari serangan kaum Muslimin.

Yang dimaksud Yahudi itu khusus di Israel atau juga termasuk di Amerika Serikat (AS)? Yang pasti Yahudi Israel. Kalaupun kemudian Yahudi-Amerika pindah ke Israel, wallahu alam. Dan Yahudi yang pindah ke Israel itu berarti menyatakan diri sebagai musuh ummat Islam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bahwa Rasulullah bersabda, “Dan akan keluar dari kampung Yahudiyah kota Ashbahan bersama tujuh puluh ribu orang Ashbahan.”

Rasulullah bersabda, “Tidak ada fitnah yang yang lebih besar daripada fitnah Dajjal.”

“Wahai Rasulullah, beberapa lama dia (Dajjal) akan menetap di bumi?” Beliau menjawab, “Empat puluh hari, di mana seharinya bagaikan setahun, seharinya bagaikan sebulan, seharinya bagakan seminggu, dan sisanya seperti sehari-hari kalian.” “Dajjal keluar pada saat agama mulai melemah dan ilmu pengetahuan tidak lagi digubris. Ia akan tinggal dan berjalan di bumi selama 40 hari. Sehari bagaikan setahun, sehari bagaikan sebulan, sehari bagaikan seminggu. Kemudian seluruh harinya seperti harimu…” []
Share:

Friday, July 28, 2017

Kok Bisa? Lelaki Ini Mendapatkan Pahala Bersedekah Tanpa Harus Bersedekah

LELAKI surga ini kembali ke rumahnya dengan menangis. Sedihnya mencapai puncak ketika Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam tidak menyertakannya dalam kafilah jihad di jalan Allah Ta’ala. Sebabnya, ia tak memiliki bekal. Nabi pun tak memiliki simpanan untuk membiayai sahabatnya ini untuk berjuang di jalan Allah Ta’ala.

Malam harinya, lelaki surga bernama ‘Utbah bin Zaid Radhiyallahu ‘anhu ini berdiri seraya memanjatkan pinta kepada Allah Ta’ala. Katanya dalam munajat khusyuk itu,

“Ya Allah, sesungguhnya Engkau telah berikan perintah untuk berjihad. Dan, aku sangat merindukannya. Kemudian, Engkau tidak menjadikan di sisiku sesuatu yang bisa dijadikan bekal untuk berjihad bersama Rasul-Mu. Engkau juga tidak menjadikan di tangan Rasul-Mu sesuatu yang bisa membawaku bersama beliau.”

Pungkasnya sampaikan pinta dengan penuh haru,

“Maka, aku bersedekah kepada setiap muslim dengan setiap kezhaliman yang mereka timpakan kepadaku baik dari harta, raga, maupun kehormatan.”

Jadi, ‘Utbah bin Zaid tidak mengeluarkan apa pun sebagai sedekah. Ia hanya mengikhlaskan semua bentuk kezhaliman yang ditimpakan kepadanya, dengannya itu, ia berniat bersedekah kepada setiap kaum Muslimin.

Esoknya, sebelum kafilah jihad bergegas menuju medan laga, ‘Utbah pun mendatangi masjid untuk dirikan Shubuh berjamaah bersama Nabi dan kaum Muslimin. Lepas shalat, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda, “Siapa yang tadi malam bersedekah?”

Agak lama, tiada yang mengaku. Hingga, beliau mengulanginya beberapa kali, dan diakhiri, “Siapa yang tadi malam bersedekah, datanglah kepadaku.”

‘Utbah pun mendatangi Nabi dengan malu-malu. Kepada sang baginda, ia mengisahkan kalimat doa yang dipanjatkannya semalam. Hingga, Nabi yang terkasih ini mengatakan, “Aku berikan kepadamu kabar gembira.”

“Demi Zat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, sesungguhnya apa yang telah engkau kerjakan akan ditulis sebagai zakat yang diterima.”

Mahabenar Allah Ta’ala dengan segala firman-Nya. Dan, sebaik-baik perkataan adalah kalimat yang meluncur dari lisan manusia paling mulia, Muhammad bin ‘Abdullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam.

Inilah di antara bentuk Kasih Sayang Allah Ta’ala. Ganjaran diberikan kepada siapa yang sungguh-sungguh dalam melakukan amal shalih. Bahkan, seorang hamba akan tetap mendapatkan pahala, meski ia belum melakukan amal, selama niatnya benar-benar ikhlas.

Dari kisah ini, seharusnya kita belajar. Bahwa kebaikan harus ditumbuhkan lebih dini dari dalam hati yang paling suci. Dan kita, tidak boleh meremehkannya, meski belum mampu melakukannya. Setidaknya, senantiasalah memperbaiki niat, dna usahalah sebaik mungkin untuk ketercapaiannya. Semoga Allah Ta’ala menerima niat baik dan amal-amal shalih yang kita kerjakan. Aamiin. []

Sumber: Kisahikmah
https://www.islampos.com/pahala-sedekah-tanpa-sedekah-40284/
Share:

Monday, July 24, 2017

Inilah Nubuwat Akhir Zaman dan Keistimewaan Bumi Palestina

Pendengar, jika disebut kota suci ketiga setelah Mekah dan Madinah, maka dalam beberapa detik akan terlintas dalam benak kita bahwa yang dimaksud tiada lain kecuali Al-Quds. Benar, Al-Quds, atau Al-Aqsha, Palestina, adalah kata yang tidak asing bagi mayoritas kaum muslimin. Hati kaum muslimin di Indonesia pun lebih dekat dengan Al-Aqsha dari pada Istiqlal atau bangunan lainnya di negeri ini.

Al-Aqsha, atau Baitul Maqdis disebutkan dalam banyak riwayat hadits dan atsar. Tentang keagungan dan keutamaannya, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa Masjidil Aqsha adalah masjid tertua kedua di muka bumi. Masjidil Aqsha juga merupakan kiblat pertama kaum muslimin. Baitul Maqdis sendiri merupakan salah satu dari tiga kota suci yang dianjurkan untuk diziarahi dengan niatan ibadah.[1] Tentang keutamaan shalat di Baitul Maqdis, Rasulullah shalallahu alaihi wasallam menyebutkan bahwa ia setara dengan 500 kali dibanding dengan masjid lainnya. Palestina sendiri termasuk negeri yang didoakan agar mendapat berkah. Dan terakhir, Rasulullah pernah berkunjung ke Palestina dan shalat di Masjidil Aqsa pada malam Isra’.

Secara geografis, Palestina memiliki kedudukan yang sangat strategis di mata dunia Internasional. Tanah bukit Moria, sebuah dataran tinggi yang di atasnya berdiri Masjidil Aqsha dan Masjid Qubbatush Shahra, yang luasnya kurang dari 4 kali lapangan sepakbola, kini telah diperebutkan oleh lebih dari 3 milyar umat manusia.

Di samping faktor geografis dan keutamaan lainnya yang dinubuwatkan, Palestina juga menyimpan banyak misteri di akhir zaman. Negeri ini telah dinubuwatkan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam sebagai negeri paling unik. Realita yang kita saksikan sampai hari ini tentang Palestina merupakan gambaran kebenaran apa yang disabdakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Pergolakan politik dan pertikaian serta konflik antara umat Islam dengan Yahudi sebenarnya telah diberitakan oleh Rasulullah shalallahu alaihi wasallam. Berikut ini merupakan penjelasan dari nabi tentang Palestina di akhir zaman.

1. Palestina Akan Menjadi Bumi Ribath Sampai Akhir Zaman


Mu’awiyah bin Abi Sufyan berkata, “Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang menegakkan agama Allah, orang-orang yang memusuhi mereka maupun tidak mau mendukung mereka sama sekali tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” Malik bin Yakhamir menyahut: Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa mereka berada di Syam.” Mu’awiyah berkata, “Lihatlah, ini Malik menyebutkan bahwa ia telah mendengar Mu’adz bin Jabal mengatakan bahwa kelompok tersebut berada di Syam.”[2]

Tentang negeri Syam yang disebutkan dalam hadits di atas, riwayat di bawah ini memperjelas bahwa negeri Syam yang dimaksud adalah Palestina. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dari Abu Umamah, ia berkata: Rasulullahshalallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan senantiasa ada sekelompok umatku yang berada di atas kebenaran, mengalahkan musuh-musuhnya, dan orang-orang yang memusuhi mereka tidak akan mampu menimpakan bahaya terhadap mereka kecuali sedikit musibah semata. Demikianlah keadaannya sampai akhirnya datang urusan Allah.” “Wahai Rasulullah, di manakah kelompok tersebut?” tanya para sahabat. “Mereka berada di Baitul Maqdis dan pelataran Baitul Maqdis.”

Maka, berbagai pertanyaan yang terus menggelayuti benak setiap muslim; mengapa konflik di Palestina dan pertikaian antara umat Islam dan Yahudi tak kunjung usai, barangkali bila dilacak dari sudut pandang takdir bisa dijawab dengan hadits ini. Sungguh, negeri Palestina tidak akan pernah sepi dari peperangan antara kaum muslimin dengan musuh-musuhnya. Dan, sebagaimana yang disebutkan dalam riwayat di atas, musibah apapun yang ditimpakan oleh musuh-musuh Islam terhadap kaum muslimin di Palestina, hal itu tidak memberikan madharat kecuali sedikit musibah. Maknanya, bahwa sehebat apapun gempuran musuh yang ditimpakan terhadap umat Islam di Palestina, maka hal itu tidak akan pernah membuat komunitas di negeri itu lenyap. Ada semacam jaminan bahwa umat Islam di negeri itu akan tetap eksis. Dan jihad di negeri itu akan terus berlanjut sampai akhir zaman; sampai kaum muslimin berhasil mengalahkan Dajjal.

Riwayat di atas juga boleh jadi menjadi isyarat tentang mustahilnya bagi umat Islam untuk berhijrah meninggalkan Palestina secara total; sedahsyat apapun gempuran musuh atas mereka. Janji Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bahwa serangan musuh hanya akan menimpakan sedikit musibah atas mereka menjadibisyarah (kabar gembira) bahwa negeri ini tidak akan pernah mampu ditaklukkan oleh musuh. Pasti, akan selalu ada segelintir umat yang akan bertahan untuk mempertahankan negeri ini !

2. Palestina Akan Menjadi Bumi Hijrah di Akhir Zaman


Nubuwat lain yang juga menakjubkan adalah bahwa negeri Paletina ini akan menjadi bumi hijrah akhir zaman. Hal itu sebagaimana yang disebutkan dari Abdullah bin Amru bin Ash berkata: Saya mendengar Rasulullah shalallahu alaihi wasallam bersabda, “Akan terjadi hijrah sesudah hijrah, maka sebaik-baik penduduk bumi adalah orang-orang yang mendiami tempat hijrah Ibrahim, lalu yang tersisa di muka bumi hanyalah orang-orang yang jahat. Bumi menolak mereka, Allah menganggap mereka kotor, dan api akan menggiring mereka bersama para kera dan babi.” [3]

Jika riwayat tersebut dikorelasikan dengan hadits lain yang menceritakan perjalanan Imam Mahdi dan kaum muslimin dalam memerangi musuh-musuhnya, maka boleh jadi nubuwat di atas terjadi di masa Al-Mahdi. Hal itu Sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah riwayat, Rasulullah shalallahu alaihi wasallambersabda: “Allah memberitahukan kepada Isa dengan firman-Nya, “Tiada seorang pun yang mampu melawannya, karena itu bawalah hamba-hamba-Ku (yang baik-baik) ke gunung Thur.” Lalu Allah membangkitkan (mengutus) Ya’juj dan Ma’juj, mereka segera datang dari seluruh tempat yang tinggi. [4]

Gunung Thur, sebagaimana yang termuat dalam riwayat di atas merupakan bagian dari negeri Syam, meskipun ia tidak berada tepat di dalam Palestina. Tetapi wilayah tersebut masih masuk dalam bagian negeri hijrahnya nabi Ibrahim as. (Syam). Wallahu A’lam.

3. Palestina Akan Menjadi Tempat Tegaknya Khilafah di Akhir Zaman


Hal itu sebagaimana yang disebutkan dalam hadits Abdullah bin Hawalah Al-Azdi. Rasulullah shalallahu alaihi wasallam pernah bersabda kepadanya, “Wahai Ibnu Hawalah, jika engkau melihat kekhilafahan telah turun di bumi Al-Maqdis (Baitul Maqdis, Palestina), maka itu pertanda telah dekatnya berbagai goncangan, kegundah-gulanaan, dan peristiwa-peristiwa besar. Bagi umat manusia, kiamat lebih dekat kepada mereka daripada dekatnya telapak tanganku kepada kepalamu ini.”

Jika merujuk pada riwayat yang menyebutkan penaklukkan kaum muslimin di akhir zaman, maka kemungkinan tegaknya khilafah di bumi Baitul Maqdis itu terjadi di zaman Al-Mahdi. Sebagaimana disebutkan dalam banyak riwayat, bahwa di masa Al-Mahdi kelak Dajjal akan dikalahkan, dan tempat terbunuhnya Dajjal sendiri berada di Bab Ludd-Palestina. Setelah tewasnya Dajjal di tangan nabi Isa as, maka kaum muslimin terus memburu Yahudi dimanapun mereka bersembunyi. Setiap benda, baik pohon, batu maupun lainnya akan berbicara dan memberitahukan keberadaan Yahudi yang bersembunyi. Hanya satu jenis pohon yang akan diam dan melindungi Yahudi, yaitu pohon Gharqad, sesungguhnya ia termasuk salah satu dari pohon Yahudi.

4. Palestina Akan Menjadi Tempat Bertahannya Iman di Akhir Zaman


Ada beberapa riwayat yang menjelaskan tentang hal ini :

Dari Salamah bin Nufail Al Kindi ia berkata,’ Saya duduk di sisi Nabi shalallahu alaihi wasallam, maka seorang laki-laki berkata,” Ya Rasulullah, manusia telah meninggalkan kuda perang dan menaruh senjata. Mereka mengatakan,” Tidak ada jihad lagi, perang telah selesai.” Maka Rasulullah shalallahu alaihi wasallammenghadapkan wajahnya dan besabda,” Mereka berdusta!!! Sekarang, sekarang, perang telah tiba. Akan senantiasa ada dari umatku, umat yang berperang di atas kebenaran. Allah menyesatkan hati-hati sebagian manusia dan memberi rizki umat tersebut dari hamba-hambanya yang tersesat (ghanimah). Begitulah sampai tegaknya kiamat, dan sampai datangya janji Allah. Kebaikan senantiasa tertambat dalam ubun-ubun kuda perang sampai hari kiamat. Dan Allah telah mewahyukan kepadaku bahwa aku akan diwafatkan. Aku tidak akan kekal di dunia ini, dan kalian akan saling menyusulku, sebagian kalian memerangi sebagian yang lain. Dan kampung halaman kaum beriman adalah Syam.”

Dari Abdullah bin Amru, ia berkata: Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda: “Sesungguhnya saya melihat seakan-akan tonggak Al-Kitab telah tercabut dari bawah bantalku. Maka aku mengikuti kepergiannya dengan pandangan mataku. Tiba-tiba muncul seberkas cahaya yang terang-benderang mengarah ke Syam. Ketahuilah, sesungguhnya iman pada saat terjadi beragam fitnah berada di Syam.”

5. Palestina Menjadi Salah Satu Tempat Berlindung Dari Dajjal


Rasulullah shalallahu alaihi wasallam telah bersabda:

“Aku peringatkan kalian tentang Dajjal. Aku peringatkan kalian tentang Dajjal. Aku peringatkan kalian tentang Dajjal. ……. Ia menetap di bumi selama empat puluh hari. Ia bisa mencapai setiap jengkal muka bumi kecuali empat masjid; masjidil Haram, masjidi Madinah, masjid Ath-Thur dan masjidil Aqsha. Ia tidak akan samar-samar lagi bagi kalian, karena Rabb kalian tidaklah buta mata sebelah (sementara Dajjal buta sebelah matanya).”[5]

[1]. Rasulullah saw bersabda: “Tidak dianjurkan untuk melakukan perjalanan jauh ke masjid-masjid tertentu dengan niatan ibadah kecuali kepada tiga masjid: Masjidil Haram, Masjid Rasul (Masjid Nabawi) dan Masjidil Aqsa. HR. Bukhari: Kitabut Tathawwu’ no. 1115 dan Muslim: Kitabul Hajj no. 2475.

[2]. HR. Bukhari: Kitabul Manaqib no. 3369 dan Muslim: Kitabul Imarah no. 3548.

[3]. HR. Abu Daud

[4] Shahih Muslim, Bab Dzikr Ad-Dajjal 18: 68-69

[5] HR. Ahmad. Syaikh Al-Albani menyatakan hadits ini shahih dalam Silsilah Al-Ahadits Ash-Shahihah no. 2934.

Sumber : https://www.islampos.com/palestina-dan-nubuwat-akhir-zaman-39690/

Share:

Wednesday, April 5, 2017

Ini Dia 5 Sunnah-Sunnah Ketika Bangun Tidur Yang Selayaknya Dilakukan Seorang Muslim

DALAM Islam, semua hal bisa menjadi ibadah. Tentu, apabila kita niatkan untuk beribadah kepada Allah SWT. Apalagi tidur. Selain akan membuat kita jadi segar, tidur juga merupakan sebuah karunia besar untuk kita.

Dan luar biasanya Islam, tidak hanya ketika, dan sedang, bahkan bangun tidur pun bisa menjadi pahala. Ada beberapa hal yang sudah dicontohkan oleh Rasulullah kepada kita untuk kita tiru. Beberapa ini di antaranya.

1. Mengusap wajah dengan tangan agar hilang kantuk


“Saat Rasulallah shallallahu `alaihi wasallam bangun dari tidur, beliau duduk dan mengusap wajahnya dengan tangannya untuk menghilangkan kantuk,” (HR. Imam Muslim).

2. Mengucapkan do`a sebagai berikut :


“Segala puji bagi Allah yang telah menghidupkan kami setelah mematikan kami dan hanya kepada-Nya kami dikembalikan,” (HR. Al-Bukhari)

3. Bersiwak


“Apabila bangun dari tidur di malam hari, Rasulallah shallallahu `alaihi wasallam menggosok gigi dengan siwak,” (HR. Al-Bukhari dan Imam Muslim)

4. Mendenguskan angin dari lubang hidung


Rasulallah shallallahu `alaihi wasallam bersabda: “Apabila salah seorang diantara kalian bangun tidur, hendaknya ia mendenguskan angin melalui lubang hidungnya sebanyak 3 kali. Karena syetan biasanya mendekam di lubang hidung,” (HR. Muttafaq `Alaih)

5. Membasuh kedua tangan sebanyak 3 kali


Rasulallah shallallahu `alaihi wassallam bersabda : “Apabila salah seorang diantara kalian bangun tidur, jangan langsung mencelupkan tangannya ke dalam bejana wudhu sebelum membasuhnya sebanyak 3 kali,” (HR. Al-Bukhari dan Imam Muslim). []

Sumber : ISLAMPOS
Share:

Friday, March 31, 2017

8 Jenis Rezeki Dari Allah Yang Wajib Diketahui Seorang Muslim


Pendengar, inilah 8 Jenis Rezeki Dari Allah Yang Wajib Diketahui Seorang Muslim
1.Rezeki Yang Telah Dijamin.

‎وَمَا مِن دَابَّةٍ فِي الْأَرْضِ إِلَّا عَلَى اللَّهِ رِزْقُهَا وَيَعْلَمُ مُسْتَقَرَّهَا وَمُسْتَوْدَعَهَا كُلٌّ فِي كِتَابٍ مُّبِينٍ
"Tidak ada satu makhluk melatapun yang bergerak di atas bumi ini yang tidak dijamin ALLAH rezekinya."
(Surah Hud : 6).

2. Rezeki Kerana Usaha.

‎وَأَن لَّيْسَ لِلْإِنسَانِ إِلَّا مَا سَعَى
"Tidaklah manusia mendapatkan apa-apa kecuali apa yang dikerjakannya."
(Surah An-Najm : 39).

3. Rezeki Kerana Bersyukur.

‎لَئِن شَكَرْتُمْ لَأَزِيدَنَّكُمْ وَلَئِن كَفَرْتُمْ إِنَّ عَذَابِي لَشَدِيدٌ
"Sesungguhnya jika kamu bersyukur pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu."
(Surah Ibrahim : 7).

4. Rezeki Tak Terduga.

‎وَمَن يَتَّقِ اللَّهَ يَجْعَل لَّهُ مَخْرَجًا( ) وَيَرْزُقْهُ مِنْ حَيْثُ لَا يَحْتَسِبُ
"Barangsiapa yang bertakwa kepada ALLAH nescaya Dia akan menjadikan baginya jalan keluar dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya."
(Surah At-Thalaq : 2-3).

5. Rezeki Kerana Istighfar.

‎فَقُلْتُ اسْتَغْفِرُوا رَبَّكُمْ إِنَّهُ كَانَ غَفَّارًا ( ) يُرْسِلِ السَّمَاءَ عَلَيْكُم مِّدْرَارًا
"Beristighfarlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, pasti Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dan memperbanyak harta.”
(Surah Nuh : 10-11).

6. Rezeki Kerana Menikah.

‎وَأَنكِحُوا الْأَيَامَىٰ مِنكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُمْ إِن يَكُونُوا فُقَرَاءَ يُغْنِهِمُ اللَّهُ مِن فَضْلِهِ
"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak dari hamba sahayamu baik laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, maka ALLAH akan memberikan kecukupan kepada mereka dengan kurnia-Nya."
(Surah An-Nur : 32).

7. Rezeki Kerana Anak.

‎وَلَا تَقْتُلُوا أَوْلَادَكُمْ خَشْيَةَ إِمْلَاقٍ نَّحْنُ نَرْزُقُهُمْ وَإِيَّاكُمْ
"Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu kerana takut miskin. Kamilah yang akan menanggung rezeki mereka dan juga (rezeki) bagimu.”
(Surah Al-Israa' : 31).

8. Rezeki Kerana Sedekah

‎مَّن ذَا الَّذِي يُقْرِضُ اللَّهَ قَرْضًا حَسَنًا فَيُضَاعِفَهُ لَهُ أَضْعَافًا كَثِيرَةً
“Siapakah yang mahu memberi pinjaman kepada ALLAH, pinjaman yang baik (infak & sedekah), maka ALLAH akan melipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipatan yang banyak.”
(Surah Al-Baqarah : 245).
Share:

Friday, March 3, 2017

Inilah 6 Syarat Diperbolehkannya Bergurau bagi Seorang Muslim

Pendengar, Diriwayatkan dari Abu Umamah radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

أَنَا زَعِيمٌ بِبَيْتٍ فِي رَبَضِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْمِرَاءَ وَإِنْ كَانَ مُحِقًّا وَبِبَيْتٍ فِي وَسَطِ الْجَنَّةِ لِمَنْ تَرَكَ الْكَذِبَ وَإِنْ كَانَ مَازِحًا وَبِبَيْتٍ فِي أَعْلَى الْجَنَّةِ لِمَنْ حَسَّنَ خُلُقَهُ

“Aku akan menjamin rumah di tepi surga bagi seseorang yang meninggalkan perdebatan meskipun benar. Aku juga menjamin rumah di tengah surga bagi seseorang yang meninggalkan kedustaan meskipun bershifat gurau, Dan aku juga menjamin rumah di syurga yang paling tinggi bagi seseorang yang berakhlak baik.” (HR. Abu Daud no 4167)

Pelajaran dari hadits


Pelajaran Pertama : Dibolehkan bergurau selama tiu memenuhi beberapa syarat, diantaranya:


Syarat Pertama: Tidak mengandung kebohongan baik dalam perkataan maupun perbuatan sebagaimana di dalam hadits Hakim bin Hizam radhiyallahu ‘anhu ia berkata, Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَيْلٌ لِلَّذِي يُحَدِّثُ فَيَكْذِبُ لِيُضْحِكَ بِهِ الْقَوْمَ وَيْلٌ لَهُ وَيْلٌ لَهُ

“Celakalah bagi orang yang berbicara lalu berdusta untuk membuat orang lain tertawa. Celakalah ia, celakalah ia.” (HR. Abu Daud, Baihaqi, Ahmad. Berkata Syu’iab al-Arnauth: Sanadnya Hasan)

Syarat Kedua: Tidak mengandung sesuatu yang keji atau sesuatu yang kasar dan tidak senonoh, baik dalam perkataan maupun perbuatan.

Syarat Ketiga: Hendaknya dilakukan sekedarnya dan seperlunya, serta tidak terus menerus. Berkata al-Mula Ali al-Qari di dalm Mirqah al-Mafatih Syarah Misykat al-Mashabih (14/153):

قال النووي اعلم أن المزاح المنهي عنه هو الذي فيه إفراط ويداوم عليه فإنه يورث الضحك وقسوة القلب ويشغل عن ذكر الله والفكر في مهمات الدين ويؤول في كثير من الأوقات إلى الإيذاء ويورث الأحقاد ويسقط المهابة والوقار فأما ما سلم من هذه الأمور فهو المباح الذي كان رسول الله يفعل على الندرة لمصلحة تطييب نفس المخاطب ومؤانسته وهو سنة مستحبة

Berkata an-Nawawi: Ketahuilah bahwa bergurau yang dilarang adalah yang keterluan dan terus-menerus, karena hal itu akan menyebabkan tertawa dan mengeraskan hati, serta memalingkan dari mengingat Allah dan dari memikirkan masalah-masalah agama. Bahkan seringnya menyakitkan orang lain dan menimbulkan dendam, begitu juga bisa menjatuhkan kewibawaan dan kehormatan seseorang. Adapun jika hal-hal di atas tidak ada, maka bergurau adalah sesuatu yang dibolehkan, seperti yang kadang dilakukan oleh Rasulullah, demi kemaslahatan dan meyenangkan orang yang diajak bicara serta menambah keakraban. Dan ini semua merupakan sunnah yang dianjurkan.

Syarat Keempat: Hendaknya tidak memalingkan dari kewajiban dan mengingat Allah

Syarat Kelima : Hendaknya tidak mengandung sesuatu yang menyakiti atau menakuti orang lain. Sebagaimana sabda Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam :

لَا يَحِلُّ لِمُسْلِمٍ أَنْ يُرَوِّعَ مُسْلِمًا

“Tidak halal bagi seorang muslim membuat kaget sesama saudaranya yang muslim.” (HR. Abu Daud dan Ahmad. Hadits Shahih)

Syarat Keenam: Hendaknya tidak bercanda dalam hal-hal yang dilarang oleh agama. Diantaranya adalah bercanda dalam agama yang melecehkan Allah, Ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya, sebagaimana yang tersebut di dalam firman Allah :

Dan jika kamu tanyakan kepada mereka (tentang apa yang mereka lakukan itu), tentulah mereka akan manjawab, “Sesungguhnya kami hanyalah bersenda gurau dan bermain-main saja.” Katakanlah: “Apakah dengan Allah, ayat-ayat-Nya dan Rasul-Nya kamu selalu berolok-olok?” Tidak usah kamu minta maaf, karena kamu kafir sesudah beriman. Jika Kami memaafkan segolongan kamu (lantaran mereka taubat), niscaya Kami akan mengazab golongan (yang lain) disebabkan mereka adalah orang-orang yang selalu berbuat dosa.” (QS. At Taubah : 65-66)

Syarat Ketujuh : Hendaknya tidak bergurau di tempat dan waktu yang mestinya seseorang harus serius.

Pelajaran Kedua : Manfaat Bergurau.


Bergurau mempunyai banyak manfaat, diantaranya adalah:

    Supaya menambah keakraban di antara sesama.
    Menghilangkan rasa jenuh dan bosan.
    Sarana untuk bisa menghibur dan menarik seseorang untuk bisa diarahkan pada sesuatu yang baik.
    Melatih otak agar terus berfikir dan berkembang sebagaimana mestinya.
    Memberikan kegembiraan kepada orang lain.

Pelajaran Ketiga : pada dasarnya berdusta dan berbohong adalah perbuatan dosa yang diharamkan di dalam Islam, sebagiamana firman Allah:


Dan janganlah kamu mengatakan terhadap apa yang disebut-sebut oleh lidahmu secara dusta “ini halal dan ini haram”, untuk mengada-adakan kebohongan terhadap Allah. Sesungguhnya orang-orang yang mengada-adakan kebohongan terhadap Allah tiadalah beruntung.” (QS. An Nahl: 116)

Ini dikuatkan dengan hadits Ibnu Mas’ud radhiyallahu ‘anhu ia berkata, bahwa Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِيَّاكُمْ وَالْكَذِبَ فَإِنَّ الْكَذِبَ يَهْدِي إِلَى الْفُجُورِ وَإِنَّ الْفُجُورَ يَهْدِي إِلَى النَّارِ وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيَكْذِبُ وَيَتَحَرَّى الْكَذِبَ حَتَّى يُكْتَبَ عِنْدَ اللَّهِ كَذَّابًا

“Jauhilah kebohongan, sebab kebohongan menggiring kepada keburukkan, dan keburukkan akan menggiring kepada neraka. Dan sungguh, jika seseorang berbohong dan terbiasa dalam kebohongan hingga di sisi Allah ia akan ditulis sebagai seorang pembohong.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Tetapi dalam beberapa hal, berdusta dibolehkan, diantaranya sebagaimana yang disebutkan di dalam hadits Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu ‘anha bahwasanya ia mendengar Rasulullah shallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لَيْسَ الْكَذَّابُ الَّذِي يُصْلِحُ بَيْنَ النَّاسِ وَيَقُولُ خَيْرًا وَيَنْمِي خَيْرًا

“Orang yang mendamaikan pihak-pihak yang bertikai, orang yang berkata demi kebaikan, dan orang yang membangkitkan (mengingatkan) kebaikan bukanlah termasuk pendusta.” (HR. Bukhari 2692 dan Muslim 2605)

Dalam riwayat lain disebutkan bahwa Ummu Kultsum bin Uqbah radhiyallahu ‘anha berkata:

لَمْ أَسْمَعْهُ يُرَخِّصُ فِي شَيْءٍ مِمَّا يَقُولُ النَّاسُ إِلَّا فِي ثَلَاثٍ: فِي الْحَرْبِ وَالْإِصْلَاحِ بَيْنَ النَّاسِ، وَحَدِيثِ الرَّجُلِ امْرَأَتَهُ، وَحَدِيثِ الْمَرْأَةِ زَوْجَهَا

Bahwa Rasulullah shalallahu ‘alaihi wa sallam tidaklah memberikan keringanan pada apa yang diucapkan oleh manusia bahwa itu berdusta kecuali dalam tiga perkara, yaitu, dalam perang, atau mendamaikan perselisihan di antara manusia, dan ucapan suami kepada istrinya, atau cuapan isri kepada suaminya.” (HR. Ahmad)

Sumber : Buku “Banyak Jalan Menuju Surga” dengan perubahan judul. Hal. 139

Oleh Dr. Ahmad Zain An-Najah, MA

Sumber Artikel : http://madina.or.id/tentang-kami/dai/ahmad-zain-an-najah/
Share:

Monday, February 13, 2017

Inilah Adab-adab Yang belum banyak Diketahui Wanita Saat Keluar Rumah

Pendengar..Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alamin, telah mengatur sedemikian rupa berkenaan dengan keutamaan dan batasan-batasan sesuai syari’at tentang apa yang seharusnya dikerjakan dan ditinggalkan oleh wanita.

Adapun Islam telah mengatur mengenai adab-adab keluar bagi seorang wanita, yaitu:

1. Berhijab (memakai hijab yang syar’i)

2. Tidak memakai wewangian

3. Pelan-pelan dalam berjalan, agar tidak terdengar suara sendalnya.

Allah subhanahu wa ta’ala berfirman:

وَلَا يَضْرِبْنَ بِأَرْجُلِهِنَّ لِيُعْلَمَ مَا يُخْفِينَ مِنْ زِينَتِهِنَّ

“Dan janganlah mereka memukulkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan”. (QS. An-Nuur: 31)

Dan pada masa sekarang ini, dengan adanya sepatu atau sandal yang bertumit atau berhak tinggi dan kita dapati para wanita memakainya, sehingga terdengarlah suara sandal atau sepatunya tersebut. kadang ia bertingkah genit dalam berjalan dan bernarlah apa yang disabdakan oleh Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam:

الْمَرْأَةُ عَوْرَةٌ فَإِذَا خَرَجَتِ اسْتَشْرَفَهَا الشَّيْطَانُ

“Wanita adalah aurat, maka jika ia keluar syaithan akan mengikutinya.”

Ketika berjalan bersama saudarinya dan di sana ada para pria, maka janganlah bercakap-cakap dengan saudarinya tersebut. Bukan berarti bahwa suara wanita adalah aurat, tetapi bagi sebagian pria mendengar suara wanita itu terkadang bisa menimbulkan fitnah.

Hendaklah meminta izin kepada suaminya, jika ia telah berkeluarga.

Apabila jaraknya sejauh jarak safar, maka janganlah ia keluar, kecuali bersama mahram

Jangan berdesak-desakan dengan pria.

Hendaknya ia menundukan pandangannya.

Janganlah menanggalkan pakaiannya di selain rumahnya, jika bermaksud untuk tampil cantik (berhias) dengan perbuatan itu.

Karena Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda:

أَيُّمَا امْرَأَةٍ وَضَعَتْ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا فَقَدْ هَتَكَتْ سِتْرَ مَا بَيْنَها وَ بَيْنَ اللهِ

“Wanita mana saja yang menanggalkan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka sungguh ia telah membuka penutupnya antara dia dengan Rabb-nya,” (Hadits Shahih). []

Sumber: muslimah.or.id

https://www.islampos.com/wanita-keluar-rumah-adab-adabnya-6464/
Share:

Sunday, February 12, 2017

Ringkasan Hukum Membaca AL Qur'an Bagi Wanita Yang Haidh & Nifas Menurut Para Fuqaha

Berikut pendapat fuqaha' dalam hal ini :

Hanafiah : 

Tdak boleh bagi wanita haidh & nifas membaca Al qur'an dgn niat  tilawatul qur'an ( ingin mndapatkan pahala dari bacaanya ).

Akan tetapi jika tdk diniatkan untuk tilawah sperti dzikir  " alhamdulillah " ,doa " bismillah dll hal tersbut diperbolehkan.
Begitu pula bagi wanita yg mnjdi guru ngaji diperbolehkan membaca Al qur'an jika niatnya untuk mngajarkan kpd anak didiknya.

Malikiyah : 

Boleh membaca Al qur'an walaupun dgn niat tilawah asal tdak dgn menyentuhnya.Karna wanita tdak bisa mencegah datangnya haidh dan nifas. Tapi setelah haidh & nifas berhenti ia tdk boleh tilawatul qur'an sblum mandi wajib.

Adapun membaca Al qur'an dgn niat do'a ,dzikir dll hal tersebut diperbolehkan.

Syafeiyah :

 Tdak boleh membaca Al qur'an bagi wanita yg haidh & nifas apabila :

Bacaanya diniatkan untuk tilawah ( mendapat pahala dari bacaanya ).
Dilafadzkan dgn lisanya ( dgn menggerakan bibirnya & didengar oleh didirnya.

Adapun jika diniatkan selain tilawah sperti dzikir , do'a ,penjagaan ruqyah dll hal tersbut dilerbolehkan.

Hanabilah :

 Pendapat yg masyhur : tdak boleh bagi wanita haidh & nifas membaca Al Qur'an jika diniatkan tilawah ( ingin mendapat pahala dari bacaanya ) adapun jika niatnya lain sperti dzikir ,do'a dll hal tersbut diperbolehkan.

Madzhab dzahiri :

 Boleh bagi wanita haidh & nifas membaca Al qur'an secara mutlaq.

Ringkasan penerjemah dalam hal ini :

Madzhab yg 3 yaitu Hanafiah ,Syafeiyah,& Hanabilah tdak boleh bagi wanita haidh & nifas membaca Al Qur'an dgn niat tilawah ( mendapat pahala dari bacaanya ).
Malikiyah boleh selama haidh akan tetapi jika haidh berhenti maka tdak boleh membacanya sampai ia mandi wajib.

Kesepakatan ulama dalam hal ini :
Adapun jika tdak diniatkan untuk tilawah ( mendapat pahala dari bacaanya ) semua pendapat diatas memperbolehkan.Seperti membacanya dengan niat berdzikir ( alhamdulillah) ,Do'a ( bismillah) dll.
Begtu pula membaca Al Qur'an dgn niat mengajarkanya kpda anak didiknya ( jika dia seorang guru ) & bukan diniatkan untuk tilawah ( mndpat pahala dari bacaanya ) hal tersbut diperbolehkan.

Wallahu a'lam bishawab.

( Diringkas & diterjamahkan dari kitab Qaulul Mubin fie hukmi qira'tul qur'an wa massul mushaf lil haaidh wa nufasa' wal muhaditsin ,karya Dr. Muhammad Yusuf Arabidi halaman : 14 ).
kalau kita terjemahkan ke judul Indonesia kira2 sperti ini : Penjelasan tentang hukum membaca Al Qur'an & menyentuh mushaf bagi wanita haidh nifas & bagi orang yg berhadast.
Share:

Tanpa Sadar Kita Telah Menyia-nyiakan Usia Emas Anak-Anak Kita

Menurut penelitian,  usia tiga sampai lima  tahun merupakan usia emas. Di usia tersebut,  anak kita bisa belajar enam bahasa dengan sama baiknya,  tanpa harus mengalami kebingungan.  Demikian kata para ahli.

Lalu,  di usia emas tersebut,  apa yang kita berikan untuk anak-anak kita?

Dr.  Kamil Labudi memiliki gagasan bagus.  Gagasan tersebut Pertama taman diterapkan kepada anak-anaknya.

 Sejak di kandungan ketiganya secara rutin diperdengarkan ayat Al-Qur'an.  Kadang,  sang bunda yang membacakan. Kalau bunda lelah,  ganti ayah yang membacakan.  Dan jika ayah juga lelah,  janin mereka diperdengarkan bacaan qari' tertentu melalui kaset.  Setiap hari,  si janin diperdengarkan satu juz ayat Al-Qur'an.  Diulang empat hingga lima kali.

Mulai memasuki usia emas,  tiga tahun,  mereka mulai ditalqin Al-Qur'an. Terus,  kedua orangtua yang berlatar belakang pendidikan apoteker itu tekun mengajarkan Al-Qur'an.  Hasilnya,  Tabarak,  Yazid,  dan Zaynah berhasil berhasil  hafal Al-Qur'an  di usia balita.  Suatu hal yang beberapa tahun lalu hampir tidak terpikirkam.

Kini,  Dr.  Labudi menyertakan tetangga-tetangganya dalam proyek prestisius itu.  Mereka dibolehkan menyerahkan anak-anaknya dalam pendidikan PAUD yang disebutnya dengan "Masyru' Tabarak" atau  "Proyek Tabarak".  Dalam proyek ini,  diharapkan muncul hafizh-hafizh balita seperti anaknya,  Tabarak,  yang pertama kali menjadi model bagi proyek ini.

Proyek itu,  kini sudah menunjukkan buahnya.  Kalau dulu hampir kita semua mengatakan,  menjadi hafizh di usia balita adalah mustahil,  kini satu persatu ia berubah menjadi kenyataan,  dan tidak menutup kemungkinan segera menjadi tren masa depan.

Memang,  sebenarnya kebodohan kita yang selama ini menganggap bahwa anak kita selagi balita tidak bisa diajari Al-Qur'an.  Kebodohan kita pula,  yang membuat kita takut anak terlalu dini dikenalkan Al-Qur'an  melebihi kekhawatiran jika anak-anak kita mendengar lagu,  menonton televisi, kecanduan game,  dan sibuk dengan gadget.

Tabarak,  Yazid ,  Zaynah,  putra-putri Labudi,  juga Musa dan Ahsani dari Indonesia,  serta hafizh-hafizh cilik yang makin hari makin banyak muncul, menjadi bukti bahwa anggapan kita dulu salah,  tidak cukup beralasan.

Semoga anak Anda kelak menjadi balita hafizh Qur'an berikutnya.

Wallahu a'lam.

oleh Ust Hawin Murtadho
Share:

Inilah 5 Tanda Kebahagiaan dan Kesengsaraan Hidup Bagi Seorang Muslim

Pendengar...

Diantara tanda-tanda kebahagiaan dan kesuksesan adalah :

  1. Ketika seorang hamba diberikan tambahan ilmu, maka semakin bertambah pula sifat tawadhu' dan kasih sayangnya.

  2. Ketika diberikan tambahan amal, maka semakin bertambah rasa takut dan kehati-hatiannya.

  3. Ketika umurnya bertambah, maka semakin berkurang ketamakannya.

  4. Ketika diberikan tambahan harta, maka semakin bertambah kedermawanan dan pemberiannya.

  5. Ketika jabatan dan kedudukannya naik, maka ia semakin bertambah dekat dengan manusia, memenuhi kebutuhan mereka, dan semakin rendah hati.

 Sebaliknya, diantara tanda-tanda kesengsaraan adalah :

  1. Ketika ilmunya bertambah, maka ia semakin sombong dan sesat.

  2. Ketika diberikan tambahan amal, maka ia semakin bertambah bangga dan merendahkan manusia yang lain.

  3. Ketika umurnya bertambah, maka bertambah pula ketamakannya.

  4. Ketika diberikan tambahan harta, maka bertambah pula kekikirannya.

  5. Ketika jabatan dan kedudukannya naik, maka bertambah pula kesombongan dan kesesatannya.


والله أعلم… وبالله التوفيق وصلى الله على نبينا محمد وآله وصحبه وسلم

[Al-Fawaa-id, hlm. 227]

Share:

Friday, February 10, 2017

Inilah Keluarga Pemegang Kunci Ka'bah

Pendengar, Kemenangan gemilang diraih umat Islam pada peristiwa Fathu Mekah. Kaum musyrikin Quraisy yang angkuh dan sombong hanya tertunduk takut dan takluk di hadapan kaum muslimin yang dahulu mereka tindas. Sungguh karunia Allah SWT yang sangat besar yang diberikan kepada umat Islam sehingga kaum muslimin dapat melenggang penuh kehormatan memasuki kota Mekah, kampung halaman yang begitu mereka rindukan.

Pengorbanan harta dan jiwa, rasa sakit tersayat-sayat, serta sedih dan pilu yang mereka rasakan saat memperjuangkan kebenaran terobati sudah dengan menyaksikan kemenangan yang nyata ini.

Salah satu tugas yang harus dilaksanakan Rasulullah SAW dan kaum muslimin di Mekah adalah membersihkan Ka’bah, rumah Allah, dari sesembahan kaum musyrikin Ouraisy. Setelah beliau melakukan thawaf dan beristirahat sejenak, beliau memanggil Bilal dan menyuruhnya untuk meminjam kunci Ka’bah dari keluarga Utsman bin Thalhah.

Kunci Ka’bah memang dipercayakan kepada keluarga Utsman bin Thalhah secara turun-menurun meskipun mereka masih memegang ajaran agama jahiliah.

Bilal RA segera menyampaikan permintaan Rasulullah SAW kepada Utsman bin Thalhah di kediamannya. Namun, ibunda Utsman menolak memberikan kunci Ka’bah tersebut seraya berkata kepada putranya, “Wahai anakku, keluarga kita mendapat kehormatan untuk memegang kunci Ka’bah ini dari dulu. Jika kau berikan kunci ini kepada mereka, akan berakhirlah kehormatan keluarga kita!”

Utsman mengerti kekhawatiran ibunya. Namun, dengan kekuatan pasukan Islam saat ini, percuma menahan kunci tersebut karena kaum muslimin akan memintanya dengan paksa. Dan kemungkinan kunci tersebut akan diamanahkan kepada salah seorang dari kaum muslimin. Oleh karena itu, Utsman menenangkan ibunya agar merelakan kunci Ka’bah dibawa oleh kaum muslimin.

Setelah pintu Ka’bah terbuka, Rasulullah SAW dan para sahabat segera menghancurkan ratusan berhala di dalamnya. Begitu pula, lukisan-lukisan para Nabiyullah terdahulu yang menggambarkan adegan sesat dan dikarang oleh orang-orang jahiliah dilucuti dari dinding Ka’bah dan dibuang keluar.

Setelah Ka’bah bersih dari segala benda yang mengandung kesyirikan dan kejahiliahan, beliau melaksanakan shalat dua rakaat di dalamnya. Kemudian beliau keluar dan menyerahkan kunci Ka’bah tersebut kembali kepada Utsman.

Tentu saja Utsman heran sekaligus kaget, ternyata Rasulullah SAW tetap memercayakan perawatan Ka’bah di tangan keluarganya, yaitu Bani Syaibah yang nonmuslim.[]

Sumber : islampos
Share:

Saturday, February 4, 2017

Siapakah Orang Pertama dan Terakhir yang Masuk Kedalam Syurga?

BEBERAPA hadis shahih menyatakan tentang adanya orang yang masuk surga terakhir. Hanya saja dalam hadis itu sama sekali tidak disebutkan nama orangnya. Diantaranya,

Pertama, hadis dari Abu Hurairah radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita tentang kejadian di akhirat dalam hadis yang sangat panjang, kemudian beliau bersabda,

ثُمَّ يَفْرُغُ اللَّهُ مِنْ الْقَضَاءِ بَيْنَ الْعِبَادِ وَيَبْقَى رَجُلٌ بَيْنَ الْجَنَّةِ وَالنَّارِ وَهُوَ آخِرُ أَهْلِ النَّارِ دُخُولًا الْجَنَّةَ

Kemudian setelah Allah menyelesaikan keputusan di antara para hamba dan tinggalah seseorang antara surga dan neraka. Dan dialah penghuni neraka yang terakhir masuk surga. (HR. Bukhari 806)

Kedua, hadis dari Abu Dzar radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu alaihi wa sallam bersabda,

إِنِّي لَأَعْلَمُ آخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولًا الْجَنَّةَ وَآخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا رَجُلٌ يُؤْتَى بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُقَالُ اعْرِضُوا عَلَيْهِ صِغَارَ ذُنُوبِهِ وَارْفَعُوا عَنْهُ كِبَارَهَا؛ فَتُعْرَضُ عَلَيْهِ صِغَارُ ذُنُوبِهِ فَيُقَالُ عَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا وَعَمِلْتَ يَوْمَ كَذَا وَكَذَا كَذَا وَكَذَا. فَيَقُولُ نَعَمْ. لاَ يَسْتَطِيعُ أَنْ يُنْكِرَ وَهُوَ مُشْفِقٌ مِنْ كِبَارِ ذُنُوبِهِ أَنْ تُعْرَضَ عَلَيْهِ. فَيُقَالُ لَهُ فَإِنَّ لَكَ مَكَانَ كُلِّ سَيِّئَةٍ حَسَنَةً. فَيَقُولُ رَبِّ قَدْ عَمِلْتُ أَشْيَاءَ لاَ أَرَاهَا هَا هُنَا

Sungguh saya tahu orang paling akhir masuk surga dan penduduk neraka yang paling terakhir keluar neraka. Dia adalah orang yang didatangkan pada hari kiamat, kemudian malaikat diperintahkan, ‘Tunjukkan dosa-dosa kecil kepadanya, dan sembunyikan dosa-dosa besarnya.’

Kemudian ditampakkan dosa-dosa kecilnya, dan dia ditanya, ‘Kamu pernah melakukan dosa ini ada hari ini?’ ‘Kamu juga pernah melakukan dosa itu di waktu yang lain?’

“Benar.” jawabnya. Dia tidak mampu untuk mengelaknya. Sementara dia merasa sangat takut dengan dosa besarnya jika ditampakkan.

Kemudian Allah memutuskan,

“Setiap dosa itu akan digantikan dengan pahala.”

Kemudian orang ini mengatakan, “Ya Rab, saya memiliki dosa besar lainnya yang belum aku lihat…”

Setelah menyampaikan ini, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tersenyum. (HR. Muslim 487)

Kita wajib mengimani hadis ini, sebagai bagian dari konsekuensi syahadat kita yang mengakui Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai utusan Allah. karena berita yang beliau sampai, pasti dari wahyu.

Di saat yang sama, kita juga tidak boleh memastikan siapa nama orang yang terakhir masuk surga, dan bagaimana ciri-cirinya. Karena yang semacam ini tidak disebutkan dalam dalil. Sementara kita tidak boleh berbicara yang ghaib tanpa dalil.

Orang yang Pertama Masuk Surga

Orang yang pertama masuk surga adalah Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Ada banyak dalil tentang masalah ini, diantaranya,

[1] Hadis dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bercerita,

آتِي بَابَ الْجَنَّةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَأَسْتفْتِحُ ، فَيَقُولُ الْخَازِنُ : مَنْ أَنْتَ؟ فَأَقُولُ : مُحَمَّدٌ ، فَيَقُولُ: بِكَ أُمِرْتُ لَا أَفْتَحُ لِأَحَدٍ قَبْلَكَ

Pada hari kiamat, aku mendatangi pintu surga, lalu aku minta agar dibukakan. Sang penjaga pintu bertanya, “Siapa kamu?”

Aku jawab, “Muhammad.”

Kemudian penjaga ini menyatakan, “Aku diperintahkan untuk membuka karenamu. Tidak akan aku buka pintu surga bagi siapapun sebelum kamu.” (HR. Muslim 507)

[2] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam orang yang pertama mengetuk pintu surga.

Dari Anas bin Malik radhiyallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

أَنَا أَكْثَرُ الأَنْبِيَاءِ تَبَعًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَأَنَا أَوَّلُ مَنْ يَقْرَعُ بَابَ الْجَنَّةِ

“Saya adalah nabi yang paling banyak pengikutnya di hari kiamat. Dan saya orang yang pertama kali mengetuk pintu surga.” (HR. Muslim 505, Ibnu Hibban 6481 dan yang lainnya).

[3] Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam menyatakan, beliau pertama masuk surga,

أَنَا أَوَّلُ مَنْ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ يَوْمَ الْقِيَامَةِ، وَلَا فَخْرَ

Saya orang yang pertama masuk surga di hari kiamat. Dan bukan untuk sombong. (HR. Ahmad)

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tambahkan, “bukan untuk sombong…” beliau tambahkan demikian untuk menegaskan bahwa beliau cerita semacam ini untuk menanamkan keyakinan tentang berita tentang akhirat. Artinya, siapapun wajib meyakini bahwa beliau adalah orang yang pertama kali masuk surga. []



Sumber: Konsultasi Syariah.
Share:

Hukum Wanita Berenang di Kolam Renang Umum

Berenang menjadi salah satu aktifitas yang dapat menyehatkan juga menghilangkan stress. Karena setelah berenang, otot-otot akan merasakan relaksasi. Olahraga air ini bukan hanya untuk pria saja, wanita pun bisa melakukannya. Namun, bagi wanita, ada beberapa hal yang harus diperhatikan agar berenang tak menjadi perbuatan dosa.

Mungkin sebagian wanita ada yang masih ragu dan bertanya-tanya apakah boleh seorang wanita pergi ke kolam renang untuk berenang di sana? Bukankah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang wanita untuk mandi di hammaam (tempat pemandian umum di zaman Rasulullah)?

Ya, benar. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah melarang wanita untuk mandi di tempat pemandian umum. Sebagaimana dalam sabdanya:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلَا يُدْخِلْ حَلِيلَتَهُ الْحَمَّامَ

“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir maka janganlah dia memasukkan istrinya ke dalan hammaam (tempat pemandian umum).”

Begitu pula dengan sabda beliau:

مَا مِنْ امْرَأَةٍ تَضَعُ ثِيَابَهَا فِي غَيْرِ بَيْتِ زَوْجِهَا إِلَّا هَتَكَتْ السِّتْرَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ رَبِّهَا

“Wanita mana yang melepaskan pakaiannya di selain rumah suaminya, maka dia telah merusak hubungan antara dirinya dengan Allah.”

Jika seorang wanita ingin berenang di kolam renang umum, diharapkan memperhatikan aspek berikut ini:

1. Wanita yang ingin berenang harus menutup auratnya dan berpakaian tidak ketat.


2. Wanita-wanita yang hadir di kolam renang tersebut juga harus menutup auratnya dan berpakaian tidak ketat, sehingga antara mereka tidak ada kemungkinan untuk saling melihat.

Karena Nabi shallallahu ‘alahi wa sallam melarang seorang wanita melihat aurat wanita yang lain, beliau bersabda:

لاَ يَنْظُرُ الرَّجُلُ إِلَى عَوْرَةِ الرَّجُلِ وَلاَ الْمَرْأَةُ إِلَى عَوْرَةِ الْمَرْأَةِ

“Janganlah seorang laki-laki melihat kepada aurat laki-laki lain dan janganlah seorang wanita melihat aurat wanita lain.”

3. Tidak adanya campur-baur antara laki-laki dan wanita di tempat renang tersebut.


4. Tempat renang umum tersebut aman dari pandangan lelaki, sehingga tidak ada laki-laki satu pun yang bisa melihat ke dalamnya.


5. Mendapatkan izin dari suami apabila sudah menikah atau dari wali jika belum menikah.

Meskipun keempat syarat di atas telah terpenuhi, akan tetapi suami dan wali berhak tidak mengizinkan istri atau anaknya berenang di tempat umum. Jika seperti itu, maka seorang wanita tidak boleh memaksakan dirinya untuk pergi ke sana, karena mematuhi suami atau wali hukumnya adalah wajib pada permasalahan yang mubah (boleh).

Jika memang mampu, alangkah baiknya jika seorang wanita yang ingin berenang mempunyai kolam renang sendiri. Namun jika tidak mampu, maka tidak diharuskan untuk memaksakan diri. Karena masih banyak cara bagi seorang wanita untuk menjaga kebugaran selain dengan berenang.

Larangan-larangan ini tentunya untuk menjaga kesucian dari wanita itu sendiri. Jika manusia berpikir, betapa Allah SWT sangat memuliakan seorang wanita sehingga banyak sekali hukum yang dibuat Allah SWT untuk menjaga kesucian seorang wanita. []

Sumber: Muslimah.or.id
Share:

Friday, February 3, 2017

Waktu Emas Membaca Surat Al Ikhlas Yang Dianjurkan Oleh Rosulullah Shalallhu Alaihi Wassalam

Si Kecil Cabe Rawit, itulah mungkin perumpamaan yang cocok untuk menggambarkan surat Al-Ikhlas. Jumlah ayat yang sedikit dan juga menjadi salah satu surat terpendek membuat Al-Ikhlas menjadi surat andalan yang dibaca dalam sholat wajib.

Al Ikhlas sendiri tidak berbeda dengan surat ataupun ayat lain dalam Al Quran. Diluar dari jumlah ayat dan pendeknya, Surat Al Ikhlas ternyata memberikan banyak faedah bagi siapa saja yang membaca dan mengamalkannya. Salah satunya yaitu kemudahan dan keselamatan di akhirat bagi mereka yang senantiasa membasahi bibirnya dengan membaca Surat Al-Ikhlas.

“Siapa yang membaca Qul Huwallaahu Ahad (Surat Al-Ikhlash) sampai menghatamkannya sebanyak sepuluh kali niscaya Allah bangunkan untuknya intana di surga.” (HR Ahmad).

Ternyata ada waktu-waktu ’emas’ yang dianjurkan Rosulullah SAW untuk membaca Surat Al Ikhlas agar lebih memberikan keutamaan. Dilansir dari berbagai sumber terpercaya, di waktu-waktu inilah keutamaan membaca Surat Al Ikhlas akan lebih dirasakan sesuai faedahnya.

Pagi dan Sore

Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata: “Pada suatu malam di tengah hujan yang gelap gulita, kami keluar mencari Rasulullah SAW. untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukan beliau. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah”. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah”. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah”. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah bersabda, “Katakanlah (Qul huwallahu ahad) dan mu’awwidzatain saat sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan menjagamu dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud dan An Nasai).

Sebelum Tidur

Dari ‘Aisyah, rodhiyallohu ‘anha beliau berkata,
“Nabi shollallohu ’alaihi wa sallam ketika berada di tempat tidur di setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya lalu kedua telapak tangan tersebut ditiup dan dibacakan ’Qul huwallahu ahad’ (surat Al Ikhlash), ’Qul a’udzu birobbil falaq’ (surat Al Falaq) dan ’Qul a’udzu birobbin naas’ (surat An Naas). Kemudian beliau mengusapkan kedua telapak tangan tadi pada anggota tubuh yang mampu dijangkau dimulai dari kepala, wajah, dan tubuh bagian depan. Beliau melakukan yang demikian sebanyak tiga kali.” (HR. Bukhari).

Saat Sholat Witir Tiga Rakaat

Dari Ubay bin Ka’ab, ia berkata, “Rasulullah SAW. biasanya melaksanakan shalat witir dengan membaca Sabbihisma robbikal a’la (surat Al A’laa), Qul yaa ayyuhal kafiruun (surat Al Kafirun), dan Qul huwallahu ahad (surat Al Ikhlash).” (HR. Abu Daud dan An-Nasai).

Saat Sholat Maghrib di Malam Jumat

Dari Mu’adz bin Abdullah bin Khubaib dari bapaknya ia berkata: “Pada suatu malam di tengah hujan yang gelap gulita, kami keluar mencari Rasulullah SAW. untuk shalat bersama kami, lalu kami menemukan beliau. Beliau bersabda, “Apakah kalian telah shalat?” Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah”. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Beliau bersabda, “Katakanlah”. Namun sedikit pun aku tidak berkata-kata. Kemudian beliau bersabda, “Katakanlah”. Hingga aku berkata, “Wahai Rasulullah, apa yang harus aku katakan?” Rasulullah bersabda, “Katakanlah (Qul huwallahu ahad) dan mu’awwidzatain saat sore dan pagi hari sebanyak tiga kali, maka dengan ayat-ayat ini akan menjagamu dari segala keburukan.” (HR. Abu Daud dan An Nasai).

Shalat Dua Raka’at Saat Setelah Thowaf di Belakang Makan Nabi Ibrahim

Dalam sebuah riwayat dikatakan: “Lantas Rasulullah menjadikan maqom Ibrahim antara dirinya dan Ka’bah, lalu beliau melaksanakan shalat dua raka’at. Dalam dua rakaat tersebut, beliau membaca surat Al-ikhlas dan surat Al-kafirun.”

SaatShalat Sunnah Ba’diyah Maghrib

Dari Abdullah bin Mas’ud ra. berkata,
“Aku tidak dapat menghitung karena sangat sering aku mendengar bacaan Rasulullah dalam membaca surat pada dua rakaat ba’diyah maghrib dan pada shalat dua raka’at qobliyah shubuh yaitu Qul yaa ayyuhal kafirun dan Qul huwallahu ahad.” (HR. Tirmidzi)

Sesudah Shalat

Dari ‘Uqbah bin ‘Amir berkata,

“Rasulullah SAW. memerintahkan padaku untuk membaca mu’awwidzaat di akhir setiap shalat.” (HR. An Nasai dan Abu Daud )

Saat Qobliyah Subuh

Dari Aisyah ra. berkata bahwa Rasulullah bersabda,

“Sebaik-baik surat yang dibaca ketika dua raka’at sebelum fajar adalah (Qul huwallahu ahad)dan (Qul yaa ayyuhal kaafirun).” (HR. Ibnu Khuzaimah 4/273. Syaikh Al Albani mengatakan dalam Silsilah Ash Shohihah bahwa hadits ini shahih).

Saat Ruqyah

Dari ‘Aisyah rodhiyallohu ‘anha, dia berkata,
“Apabila Rosululloah shollallohu ‘alaihi wa sallam hendak tidur, beliau akan meniupkan ke telapak tangannya sambil membaca QUL HUWALLAHU AHAD (surat Al Ikhlas) dan Mu’awidzatain (Surat An Naas dan Al Falaq), kemudian beliau mengusapkan ke wajahnya dan seluruh tubuhnya. Aisyah berkata, “Ketika beliau sakit, beliau menyuruhku melakukan hal itu (sama seperti ketika beliau hendak tidur, -pen).”  (HR. Bukhari).  []
sumber : SATU MEDIA
Share:

Memaksimalkan Ibadah di Waktu Maghrib Dengan 4 Sunnah Berikut

Setiap waktu akan menjadi berharga bagi diri kita jika dilalui dengan ibadah kepada Allah SWT. Ya, setiap waktu harus kita manfaatkan sebaik mungkin. Tentunya dengan memanfaatkannya pada hal-hal yang positif. Di mana Allah SWT meridhai apa yang kita lakukan. Sekali pun, yang kita lakukan adalah perkara duniawi, maka niatkanlah untuk beribadah pada Allah SWT. Dengan begitu, nilai manfaat dapat kita rasakan.

Salah satu waktu yang selalu kita lalui ialah maghrib. Waktu itu dapat kita alami ketika matahari mulai tenggelam dan malam akan segera datang. Nah, di waktu ini pun kita harus bisa memanfaatkannya dengan baik. Dan ada hal-hal baik, yang disunnahkan untuk dilakukan. Apa sajakah itu?

Pertama, memasukkan anak-anak ke dalam rumah saat masuknya waktu maghrib.


Kedua, menutup pintu-pintu di awal waktu maghrib sambil menyebut nama Allah SWT.


Mengerjakan dua adab ini merupakan salah satu upaya menjaga diri dari setan dan jin. Menahan anak-anak di rumah ketika awal waktu maghrib merupakan bentuk upaya menjaga anak-anak dari setan yang berkeliaran di waktu tersebut, demikian pula menutup pintu rumah sambil menyebut nama Allah pada saat tersebut. Dan betapa banyak anak-anak dan rumah-rumah yang dihinggapi setan pada waktu maghrib, sedangkan orangtua si anak dan si empunya rumah tidak menyadarinya. Betapa besarnya penjagaan Islam untuk anak-anak dan rumah-rumah kita.

Dalil perbuatan ini adalah hadis Jabir bin Abdillah Radhiyallahu ‘Anhu ketika beliau menyampaikan bahwa Rasulullah ? bersabda, “Jika masuk awal malam –atau beliau mengatakan, jika kalian memasuki waktu sore- maka tahanlah anak-anak kalian karena setan sedang berkeliaran pada saat itu. Jika sudah lewat sesaat dari awal malam, bolehlah kalian lepaskan anak-anak kalian. Tutuplah pintu-pintu dan sebutlah nama Allah karena setan tidak bisa membuka pintu yang tertutup,” (HR. Al-Bukhari no. 3304 dan Muslim no. 2012).

Ketiga, shalat dua rakaat sebelum shalat Maghrib.


Hal ini berdasarkan hadis Abdullah bin Mughaffal Al-Muzani Radhiyallahu ‘Anhu dari Nabi ? beliau mengatakan, “Shalatlah sebelum shalat Maghrib” tiga kali dan pada yang ketiga, beliau katakan, “Bagi yang mau” karena tidak suka kalau umatnya menjadikan hal itu sebagai suatu kebiasaan.

Juga berdasarkan hadis dari Anas bin Malik Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan, “Kami pernah tinggal di Madinah. Saat muadzin beradzan untuk shalat Maghrib, mereka (para sahabat senior) saling berlomba mencari tiang-tiang lalu mereka shalat dua rakaat sampai ada orang asing yang masuk masjid untuk shalat mengira bahwa shalat Maghrib sudah ditunaikan karena saking banyaknya yang melaksanakan shalat sunnah sebelum Maghrib,” (HR. Muslim no. 837).

Keempat, makruh tidur sebelum Isya’.


Berdasarkan hadits Abu Barzah Al-Aslami Radhiyallahu ‘Anhu, beliau mengatakan, “Bahwasannya Nabi ? suka untuk mengakhirkan waktu Isya’, membenci tidur sebelumnya, dan membenci bincang-bincang setelah Isya’,” (HR. Al-Bukhari no. 599 dan Muslim no. 647).

Alasan dibencinya tidur sewaktu Maghrib, yaitu sebelum Isya’, adalah karena tidur pada saat itu dapat menyebabkan luputnya melaksanakan shalat Isya’.

Nah, itulah keempat hal yang dapat kita lakukan di waktu Maghrib. Pada saat itulah merupakan waktu yang tepat bagi kita untuk mendekatkan diri pada Allah SWT. []

Sumber: kitab Al-Minah Al-‘Aliyyah fii Bayani As Sunan Al-Yaumiyyah, Syaikh Abdullah bin Hamud Al Furaih, dinukil dari http://www.alukah.net/sharia/0/91347 yang kami kutip di muslim.or.id
Share:

Thursday, February 2, 2017

Rajin Sholat Dhuha Setiap Hari, Tapi Rezeki Masih Seret? Mungkin 5 Hal Ini Yang Menjadi Sebabnya

Shalat Dhuha memiliki banyak keutamaan yang bermanfaat bagi rohani dan jasmani manusia. Dan salah satu keutamaan itu adalah dicukupkan segala urusan (rezeki) hingga sore menjelang.

“Pada pagi hari diharuskan bagi seluruh persendian di antara kalian untuk bersedekah. Setiap bacaan tasbih (subhanallah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahmid (alhamdulillah) bisa sebagai sedekah, setiap bacaan tahlil (laa ilaha illallah) bisa sebagai sedekah, dan setiap bacaan takbir (Allahu akbar) juga bisa sebagai sedekah. Begitu pula amar ma’ruf (mengajak kepada ketaatan) dan nahi mungkar (melarang dari kemungkaran) adalah sedekah. Ini semua bisa dicukupi (diganti) dengan melaksanakan shalat Dhuha sebanyak 2 raka’at.” (HR. Muslim).

Namun bagaimana jadinya jika rezeki yang didapatkan masih terasa susah? Jika hal tersebut menimpa Anda, maka ada kemungkinan hal-hal berikut yang menjadi penghalang datangnya rezeki pernah Anda lakukan. Dilansir dari berbagai sumber, inilah beberapa hal yang mungkin menghambat rezeki:

Berharap pada Selain Allah

“Allah SWT akan mengabulkan harapan bagi siapa saja yang berharap hanya kepada-Nya.”(QS. Al Baqarah: 186).

Hanya kepada Allah semata hendaknya kita berharap. Karena jika berharap pada dzat selainnya, maka yang akan didapatkan adalah rasa kekecewaan.

Ingatlah, Mungkin Ada Harta Haram yang Pernah Kita Makan

“Dan menghalalkan bagi mereka segala yang baik dan mengharamkan bagi mereka segala yang buruk.” (QS. Al-A’raf : 157)

Segala sesuatunya berawal dari makanan, karena dari makanan itu akan menjadi daging dan penyambung hidup yang mengkonsumsinya. Jika makanan itu baik, maka baiklah seluruhnya. Juga saat makanan itu tidka baik, maka seluruhnya akan tidak baik pula.

Apa Kabar Sedekah Anda?

“Perumpamaan (nafkah yang dikeluarkan oleh) orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah. Adalah serupa dengan sebutir benih yang menumbuhkan tujuh bulir, pada tiap-tiap bulir: seratus biji, Allah melipat gandakan (ganjaran) bagi siapa yang Dia kehendaki. Dan Allah Maha Luas (karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 261).

Perlu diingat, sedekah bisa dilakukan dengan banyak cara. Selain dalam bentuk harta, sedekah juga bisa dilakukan dengan shalat dhuha yang memilki pahala sedekah. Ataupun lebih mudahnya dengan tersenyum kepada orang lain.

Bagaimana Iman Kita?

“Seandainya kalian sungguh-sungguh bertawakal kepada Allah, sungguh Allah akan memberi kalian rezeki sebagaimana Allah memberi rezeki kepada seekor burung yang pergi dalam keadaan lapar dan kembali dalam keadaan kenyang. “ (HR. Ahmad, Tirmidzi, Nasaai, Ibnu Majah).

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka barakah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatan mereka sendiri.” (QS. Al A’raf: 96).

Maksiat

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu maka adalah disebabkan oleh perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu).” (QS. Asy Syuraa: 30).

Maksiat dan perilaku manusia setiap harinya akan mempengaruhi limpahan berkah dan kasih sayang Allah. Jika keimanan kita senantiasa dekat pada-Nya, maka Dia pun akan lebih mendekat. Begitupun sebaliknya, jika perbuatan dipenuhi dengan maksiat, disanalah kehancuarannya akan tiba.

Esensinya, rezeki tidak melulu berupa harta. Banyak hal yang tidak kita sadari sebenarnya rezeki yang tidak ternilai dengan materi semata. Kesehatan, keluarga, kehidupan, kebahagaiaan adalah beberapa dari sekian macam rezeki yang Allah karuniakan kepada hambanya. Hanya satu, tinggal bagaimana manusia mensyukurinya atau justru menutup mana dengan kekufurannya. []

Sember : SATUMEDIA
Share:

Tuesday, January 31, 2017

Keajaiban Berbakti Kepada Kedua Orang Tua

Uang bisa dicari,llmu bisa digali,Tapi kesempatan : untuk mengasihi orang tua takkan terulang lagi,

Ketika anak kita menemukan jodohnya, dan mendapatkan wanita cantik yang berhasil merebut seluruh hatinya, tidak jarang orang yang pertama menjadi musuh si Anak adalah orang tuanya sendiri.

Orang tua yang semula begitu mulia, mendadak terasa menjadi sangat cerewet, dan menjadi sumber masalah rumah tangga. Apalagi bila si anak (laki²) tidak berhasil menyatukan hati istrinya dengan ibundanya.

Padahal, anak² yang merawat orang tuanya sampai wafat, kebanyakan di cintai Alloh, hal itu tercermin dalam karir hidupnya di Dunia, dan mereka cenderung menjadi orang yang sukses.

Mu’jizat Orang Tua, dapat kita temukan dalam sejarah hidup seorang sahabat di bawah ini :

Ketika ibu dari Iyas bin Muawiyah wafat, lyas meneteskan air mata tanpa meratap, lalu beliau ditanya seorang sahabat tentang sebab tangisannya,

Jawabnya, “Alloh telah membukakan untukku, beberapa pintu untuk masuk syurga, sekarang, satu pintu telah ditutup.”

Begitulah, orangtua adalah pintu syurga, bahkan pintu yang paling tengah di antara pintu² yang lain.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,
"ORANG TUA adalah PINTU SYURGA YANG PALING TENGAH, terserah kamu, hendak kamu terlantarkan dia, atau kamu hendak menjaganya.”
(HR Tirmidzi)

Al-Qadhi berkata, "Maksud pintu syurga yang paling tengah, adalah pintu yang PALING BAGUS dan PALING TINGGI.

Dengan kata lain, se-baik² sarana yang bisa mengantarkan seseorang ke dalam syurga dan meraih derajat yang tinggi adalah dengan mentaati orangtua dan menjaganya.”

Bersyukurlah jika kita masih memiliki orangtua, karena di depan kita masih ada pintu syurga yang masih terbuka lebar.

Terlebih bila orangtua telah berusia lanjut.

Dalam kondisi tak berdaya, atau mungkin sudah pelupa, pikun dan terkesan cerewet,

atau tak mampu lagi merawat dan menjaga dirinya sendiri, persis seperti bayi yang baru lahir.

SUNGGUH TERLALU, ORANG YANG MENDAPATKAN ORANG TUANYA BERUSIA LANJUT, TAPI DIA TIDAK MASUK SYURGA, PADAHAL KESEMPATAN BEGITU MUDAH BAGINYA.

Nabi Shollallahu ‘Alaihi Wasallam.. bersabda, "Sungguh celaka....., sungguh celaka,… sungguh celaka"

lalu Seseorang bertanya “Siapakah itu wahai Rosululloh?”
Beliau bersabda, “Yakni orang yang mendapatkan, salah satu orang tuanya, atau kedua orang tuanya berusia lanjut, namun ia tidak juga bisa masuk syurga.”
(HR Muslim)

Dia tidak masuk syurga karena tak berbakti, tidak mentaati perintahnya, tidak berusaha membuat senang hatinya, tidak meringankan kesusahannya, tidak menjaga kata²nya, dan tidak merawatnya saat mereka tak lagi mampu hidup mandiri.

SAATNYA KlNI, KlTA BERKACA DIRI, SUDAHKAH LAYAK KITA DISEBUT SEBAGAI ANAK YANG BERBHAKTI ? SUDAHKAH LAYAK KITA MEMASUKI PINTU SYURGA YANG PALING TENGAH ?

Nasihat ini sebaiknya, kita sampaikan kepada anak² kita, Juga pengingat bagi saya..
Semoga bermanfa'at
 Wallahu 'a'lam bishshawab_
Share:

Kalimat Yang Membuat Setan Bertambah Kuat

Anda tentu sudah tahu bahwa setan akan selalu berusaha untuk menjerumuskan manusia ke dalam api neraka. Karenanya, Rasulullah SAW selalu mengingatkan umat Islam agar membentengi diri dari godaan setan.

Meski setan tidak pernah berhenti menggoda anak cucu adam agar bermaksiat, tapi dia tetap bisa dilemahkan dengan banyak amalan dan doa sehingga kita dijauhkan dari pengaruh buruknya.

Namun ternyata, ada juga kondisi yang membuat setan bisa membesar. Sayangnya, hal ini terjadi justru karena kalimat yang diucapkan oleh manusia sendiri.

Ternyata kalimat yang seharusnya tidak diucapkan oleh manusia agar setan tidak membesar adalah kalimat umpatan atau celaan terhadap setan. Hal ini sering kali terucap saat manusia mengalami kondisi tidak mengenakkan. Terkadang ucapan ini reflek karena kebiasaan yang sudah dilakukan. Misalnya ‘Celaka lah setan’ ‘ee… setanlah, setan bangsat (maaf).

“Janganlah kalian mencela syetan akan tetapi berlindunglah kepada Allah dari keburukannya.” (HR. Ad Dalimi, dishahihkan Al Albani)

Walid Abu Malih berkata bahwa Rasulullah bersabda, seseorang yang pernah dibonceng Rasulullah menceritakan:

“Ketika aku dibonceng Nabi shallallahu alaihi wa sallam tiba-tiba unta beliau tergelincir. Serta merta aku mengatakan, Celakalah syetan. Maka beliau bersabda, Jangan kamu katakan, celakalah syetan, sebab jika kamu katakan seperti itu maka syetan akan membesar sebesar rumah dan dengan sombongnya syetan akan berkata; itu terjadi karena kekuatanku”, (HR. Abu Dawud).

Syaikh Salim bin ‘Ied al Hilali dalam bukunya berjudul Al Manaah asy Syar’iyyah fii Shahiih as Sunnah an Nabawiyyah, menjelaskan jika hadist ini berisi larangan bagi manusia mencela setan. Kita dilarang mengaitkan kejadian buruk yang menimpa dengan ulah setan atau rekayasa setan.

Lantas bagaimana seharusnya kita bersikap jika mengalami hal buruk atau kecelakaan? Sebaiknya tetap mengingat Allah dengan membaca basmalah atau berlindunglah kepada Allah (ta’awudz). Sebagaimana petunjuk Rasulullah:

“Akan tetapi ucapakanlah ‘Bismillah’” (HR. Abu Dawud)

Wallahu a’lam bish shawab. []

Sumber : Inspirasi Data
Share:

Tuesday, January 24, 2017

13 Bentuk Durhaka Terhadap Kedua Orang tua

Bentuk bentuk durhaka kepada kedua orang tua



Arti Kedurhakaan Kepada Orangtua Dan Bentuknya


Kedurhakaan kepada kedua orang banyak bentuknya, diantaranya:
Durhaka kepada kedua orang tua yaitu bermuamalah dengan mereka dengan apa-apa yang menyakiti mereka dari hal-hal yang menyelisih syariat islam atau tidak berbakti kepada keduanya.

1. Membentak menghardik kedua orang tua...yaitu dengan meninggikan suara didepan keduanya serta berlaku kasar dalam ucapan..
Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“ Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka ucapan yang mulia “.( QS : Al-Isra : 23 )

2. Membuat keduan orang tua menangis atau sedih..baik dengan ucapan..perbuatan atau penyebab mereka berdua menangis.
3. Mengatakan “ ah “ dan berkeluh kesah dengan perintah kedua orang tua..kebanyakan dari kita ketika orang tuanya memerintahkannya, keluar dari mulutnya ucapan “ ah “ walaupun nanti dia akan melaksanakan perintah kedua orang tuanya. Allah Subhanahu wata’ala berfirman :
“Maka sekali-kali janganlah kamu mengatakan kepada keduanya perkataan “ ah “ dan janganlah kamu membentak mereka ..” (QS : Al-Isra : 23 ).

4. Bermuka masam didepan kedua orang tua.
Sebagian orang akan kamu dapati ceria. senyum..berakhlak yang baik serta memilih kata-kata yang baik ketika didalam majelis..akan tetapi tatkala ia memasuki rumah dan duduk dihadapan kedua oranga tuanya..maka ia berubah seperti singa.. berubah keadaannya.

5. Memandang dengan pandangan yang merendahkan kepada orang tua saat Marah.. Seorang anak yang seakan lebih tinggi kedudukannya dari orangtua..ketika marah dengan mudah memandang jelek dan merendahkan keduanya.

6. Mencela makanan yang dibuat Ibunya..hal ini telah melanggar dua larangan :
Pertama ..mencela makanan dan hal ini tidak boleh..
Nabi shallallaahu alaihi wa sallaam “ tidak pernah mencela makanan sekalipun jika ia menyukainya maka ia makan..kalau tidak maka ia tinggalkan “..
Kedua : Kurang beradab kepada Ibu dan menyusahkannya.

7. Memerintahkan kedua orang tuanya.. Hal ini tidak layak.apalagi kalau Ibunya lemah lanjut usia atau dalam keadaan sakit..
Adapun jika ibu melakukan hal itu dengan kerelaan serta keinginannya dan tubuhnya masih kuat maka hal itu tidak mengapa..bersamaan dengan itu memperhatikan rasa syukur kepadanya dan mendoakannya.

8. Tidak membantu keduanya dalam pekerjaan rumah.
Bahkan sebagian anak laki-laki menganggap hal itu mengurangi hak mereka dan menghilangkan sifat kelaki-lakian..
Sebagian anak-anak perempuan..ketika mereka melihat ibunya terbebani pekerjaan rumah tangga.. ia tidak membantunya bahkan sebagian mereka menghabiskan waktunya untuk berbicara dengan teman-temannya lewat telepon dan membiarkan ibunya menderita (semoga Allah memberikan hidayah kepada mereka).

9. Mencela dan melaknat kedua orang tuanya..baik secara langsung atau penyebab orang tuanya dicela..
Dari sahabat Abdullah bin Amr, Nabi Shallallaahu ‘alaihi wa sallaam bersabda..
“Diantara dosa-dosa besar yaitu seorang mencela kedua orang tuanya lalu ditanyakan ; apakah (mungkin) seseorang mencela kedua orang tuanya? Nabi menjawab : Ya..dia mencela bapak seseorang lalu orang itu mencela bapaknya..dia mencela ibu seseorang lalu orang itu mencela ibunya“..
(HR. Bukhari dan Muslim ).


10. Mengutamakan istri daripada kedua orang tuanya..sebagian manusia mendahulukan menuruti kemauan istri daripada kedua orang tuanya kalau seandainya istri meminta untuk mengusir kedua orang tuanya.. maka niscaya ia akan mengusir keduanya.

11.Berlepas diri dari orang tua, dan malu mengakui kedua orang tuanya.

12. Mencuri sesuatu milik kedua orang tuanya. maka anak ini telah melakukan dua larangan yaitu mencuri dan durhaka.

13. Berkeinginan agar orang tuanya cepat meninggal.sebagian anak berkeinginan agar orang tuanya cepat meninggal agar ia bisa mewarisi keduanya jika mereka orang kaya atau ingin cepat berlepas dari orang tua jika mereka berdua sedang sakit atau miskin.
Share:

On Streaming

Acara Hari Ini :

05.00 - 06.00 : Opening-Murotal-DzikirPagi
06.00 - 07.00 : Cakrawala Pagi
07.00 - 08.30 : Embun Pagi (Ust. Oemar Mita)
08.30 - 10.00 : Shobahul Khoir
10.00 - 11.30 : Tausiyah Pendek
11.30 - 12.30 : Murotal
12.30 - 13.30 : Kajian Siang (Ust. Agus Supriadi)
13.30 - 15.00 : ReHat Siang (UA By Request)
15.00 - 16.00 : Murotal
16.00 - 17.00 : Telaga Iman
17.00 - 19.30 : Murotal
19.30 - 20.30 :Tausiyah Malam
20.30 - 21.30 : ReHat Malam (UA By Request)
21.30 - 22.00 : Muhasabah-Closing

Powered by Blogger.

Arsip Kami

Fans Page

Listeners

Pages